Sebelum ada apotek di tiap sudut jalan, masyarakat sudah mengenal jarong: tanaman liar yang kini dibuktikan ilmu pengetahuan sebagai pereda nyeri dan peradangan alami.
JARONG atau pecut kuda dikenal dalam dunia ilmiah sebagai Stachytarpheta jamaicensis. Tanaman dengan batang tegak, daun bergerigi, dan bunga ungu kecil berderet panjang ini adalah anggota famili Verbenaceae yang telah menyebar luas di Indonesia.

Dalam pengobatan tradisional berbagai suku di Indonesia, jarong dikenal sebagai tanaman pereda nyeri. Daun yang ditumbuk atau direbus digunakan secara empiris untuk mengatasi rematik, nyeri sendi, sakit kepala, hingga peradangan pada luka. Pengetahuan ini bukan sekedar mitos, penelitian fitokimia modern mulai memberikan penjelasannya.
Anti-inflamasi
Studi laboratorium mengindentifikasi sejumlah senyawa aktif dalam jarong yang berperan langsung sebagai anti-inflamasi dan analgesik. Flavonoid dan terpenoid yang terkandung dalam daun jarong bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin, yaitu senyawa yang menjadi pemicu utama respons peradangan dan rasa nyeri dalam tubuh.
Sayangnya, karena dianggap gulma, jarong kerap dicabut atau disemprot herbisida tanpa berpikir panjang. Padahal dalam perspektif pengelolaan sumberdaya alam hayati, tanaman liar seperti jarong adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang perlu dipahami. Mengenal manfaatnya adalah langkah pertama untuk berhenti merugi dari alam yang sudah memberi gratis.
Wira Amalia F


No comment