Di balik lebatnya hutan tropis Indonesia bagian timur, hidup sejenis mamalia unik yang jarang terlihat pada siang hari.

HEWAN tersebut adalah kuskus kuning, yakni satwa berkantung yang memiliki kebiasaan dan ciri fisik menarik serta berperan penting dalam keseimbangan ekosistem hutan.
Kuskus kuning dikenal dengan nama ilmiah Phalanger orientalis. Hewan ini termasuk mamalia berkantung (marsupial) dan masih berkerabat dengan kanguru serta koala. Kuskus kuning banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Maluku, Papua, dan pulau-pulau di sekitarnya. Habitat alaminya adalah hutan tropis dengan pepohonan tinggi yang rimbun.
Nokturnal
Kuskus kuning merupakan hewan nokturnal, yaitu aktif pada malam hari. Pada siang hari, ia biasanya beristirahat di atas pohon. Karena beraktivitas di malam hari, kuskus kuning lebih mengandalkan indera penciuman dan pendengaran daripada penglihatannya untuk mencari makan dan mendeteksi bahaya.
Secara fisik, kuskus memiliki ciri khas pada kaki belakangnya, yaitu dua jari yang berlawanan arah dengan jari lainnya. Struktur ini membantu mereka mencengkeram cabang pohon dengan kuat saat memanjat. Selain itu, cakar yang tajam memudahkan mereka memanjat batang pohon dan bertahan di permukaan yang licin.
Ekor kuskus kuning juga bersifat prehensil (dapat mencengkeram), sehingga membantu menjaga keseimbangan ketika bergelantungan atau berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya.
Herbivora
Kuskus kuning adalah hewan herbivora. Makanan utamanya meliputi daun, buah, bunga, dan tunas muda. Daun yang mereka konsumsi umumnya mengandung serat tinggi dan nutrisi rendah, tetapi sistem pencernaan kuskus mampu memproses makanan tersebut secara perlahan untuk menyerap energi secara maksimal.
Sebagai hewan marsupial, induk betina memiliki kantung di bagian perut.
Masa kehamilannya relatif singkat, hanya beberapa minggu. Dalam satu kali kelahiran, biasanya hanya satu anak yang dilahirkan sehingga pertumbuhan populasinya cenderung lambat. Anak kuskus lahir dalam kondisi sangat kecil dan belum berkembang sempurna, kemudian masuk ke dalam kantung induknya untuk tumbuh dan menyusu hingga cukup kuat.
Terancam Punah
Kuskus kuning umumnya hidup sendiri (soliter), kecuali saat musim kawin atau ketika induk bersama anaknya. Hewan ini dikenal dengan gerakannya yang lambat dan hati-hati. Sifat tersebut menjadi strategi bertahan hidup agar tidak menarik perhatian predator.

Fakta uniknya, meskipun disebut “kuskus kuning”, warna bulunya dapat bervariasi dari kuning pucat, krem, hingga cokelat keemasan, tergantung usia dan wilayah habitatnya.
Sayangnya, populasi kuskus kuning saat ini terancam oleh perburuan dan hilangnya habitat akibat penebangan hutan. Oleh karena itu, upaya pelestarian sangat penting untuk menjaga keberlangsungan hidup satwa khas Indonesia timur ini.
**Aldo**


No comment