Gelam si Penjaga Gambut

Saat tanah tergenang air, miskin hara, dan berkeasaman tinggi, gelam justru berdiri kokoh, membuktikan bahwa alam selalu memiliki caranya sendiri untuk bertahan.

GELAM (Melaleuca leucadendra) merupakan salah satu jenis tanaman kehutanan yang banyak ditemukan di wilayah tropis, termasuk Indonesia.

Di ekosistem rawa gambut, gelam dikenal sebagai salah satu pohon andalan karena kemampuannya beradaptasi pada kondisi lahan basah dengan tingkat keasaman tinggi. Disamping itu, gelam  tahan terhadap genangan air dalam waktu lama. Karakter inilah yang menjadikannya spesies penting dalam menjaga stabilitas ekosistem gambut.

Secara morfologi, gelam memiliki daun tunggal berbentuk lanset dengan warna hijau tua. Batangnya berbentuk bulat dengan tekstur kasar dan kulit kayu yang mengelupas, berwarna abu-abu kecoklatan.

Bunganya bertipe majemuk dengan bentuk menyerupai lonceng berwarna putih, sedangkan buahnya berbentuk bulat kecil yang berkumpul pada satu tangkai dengan warna cokelat keabu-abuan. Ciri-ciri ini membuat gelam mudah dikenali di antara vegetasi rawa lainnya.

Kayu Kuat dan Awet

Sebagai kayu endemik rawa, gelam memiliki tingkat kekuatan dan keawetan yang cukup baik. Kayunya banyak dimanfaatkan sebagai penyangga konstruksi, kayu bakar, arang, hingga bahan lantai jembatan di wilayah perairan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol dari kulit kayu gelam memiliki potensi sebagai antibakteri alami, sehingga membuka peluang pemanfaatan berbasis bahan alam.

Pengamatan di kawasan rawa gambut Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa gelam mampu tumbuh kokoh di lahan ekstrem. Tanaman ini bertahan pada kondisi tanah yang selalu tergenang, tingkat salinitas relatif tinggi, serta persaingan ketat dengan semak belukar dalam memperoleh unsur hara yang sangat terbatas.

Kemampuan adaptasi tersebut menegaskan peran gelam sebagai spesies penting dalam ekosistem gambut.

Mirip Kayu Putih

Gelam kerap disalahartikan sebagai pohon kayu putih, karena kemiripan morfologi dan kedekatan taksonomi karena keduanya berasal dari famili dan genus yang sama. Meski demikian, kandungan minyak atsiri gelam relatif lebih rendah dibandingkan kayu putih, sehingga pemanfaatannya sebagai sumber minyak tidak sebesar kerabatnya tersebut.

Dengan berbagai manfaat ekologis dan ekonominya, gelam merupakan sumber daya alam yang perlu dikelola secara bijak. Penebangan liar tidak hanya mengancam keberadaan spesies ini, tetapi juga memperburuk kerusakan kawasan rawa gambut yang proses pemulihannya memerlukan waktu lama dan biaya besar.

Oleh karena itu, pelestarian gelam menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem gambut dan keseimbangan lingkungan.

**Sunday Sinambela**

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *