“Merusak hutan itu sebentar saja, tapi memulihkannya butuh biaya besar dan waktu panjang,” ungkap Dr. Dadan Mulyana, Ahli Ekologi Hutan PT. CKL.

BENCANA hidrometeorologi yang menimpa Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada akhir 2025, memberikan gambaran bahwa alam, terutama hutan di negeri ini sudah sangat ‘rusak’.
Banjir dan longsor menerjang, dari perkampungan hingga kota. Nyaris tidak ada yang tersisa. Rumah, sawah dan ladang, serta berbagai fasilitas lain lenyap tersapu air bah bercampur lumpur dan kayu, dari ketinggian daratan hingga pantai.
Biaya Besar
Menurut Dr. Dadan Mulyana, ahli Ekologi Hutan PT. Cedar Karyatama Lestarindo (CKL), yang ditemui GI pada sebuah kegiatan di Hutan Dramaga – Bogor, kemarin (Rabu, 10/12), bahwa musibah banjir dan longsor adalah indikator hutan sudah rusak. Tidak bisa lagi menjalankan fungsinya.
Lebih jauh Dadan bercerita, dari hasil penelitiannya, Ia menemukan kerusakan hutan Indonesia tergolong masif dan sangat berbahaya bagi generasi mendatang.

“Kerusakan hutan begitu masif, untuk memulihkannya butuh waktu 150 hingga 300 tahun. Merusak hutan sebentar saja, tapi memulihkannya butuh biaya besar dan waktu panjang,” ujar asesor LSP Rimbawan dan Lingkungan Indonesia ini.
Menurutnya, banyak kasus bisa lolos jika tidak mendapat perhatian publik. Karena itu, peran media dan masyarakat sangat penting. “Kasus perambahan hutan kalau diviralkan, penegak hukum akan bergerak. Kalau didiamkan, mereka jalan terus tanpa peduli masa depan negeri ini,” tegas Dadan.
***Riz***


No comment