Bencana yang Direncanakan?

Oleh: Fuji Ardi Kartono*)
AKHIR 2025 menjadi ‘moment kelam’ bagi Sumatera. Jelang penghujung tahun tersebut, banjir bandang menerjang tiga provinsi sekaligus: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Air datang bukan sekadar menggenang, tetapi menghantam, menyeret, dan menyapu apa saja yang dilaluinya—rumah, ladang, jalan, bahkan nyawa.
Sejak itu, berbagai penjelasan bermunculan. Ada yang menunjuk intensitas hujan ekstrem, ada yang mengingatkan jejak pembalakan hutan massif di masa lalu, ada pula yang menyebut izin pemanfaatan hutan yang terlalu mudah diperoleh oleh mereka yang memiliki kuasa dan modal. Semua terdengar masuk akal. Namun justru di situlah masalahnya: terlalu mudah kita berhenti pada alasan, tanpa berani mengakui akar persoalan.
Satu hal perlu ditegaskan: banjir bandang bukanlah perilaku normal alam. Alam telah ada jauh sebelum manusia menancapkan peradabannya. Sungai, hutan, tanah, dan hujan telah lama memiliki mekanisme keseimbangan sendiri. Jika hari ini alam seolah “murka”, itu bukan karena ia tiba-tiba berubah watak, melainkan karena ia dipaksa menyesuaikan diri dengan perubahan yang diciptakan manusia secara perlahan, sistematis, dan masif.
Secara ekologis, alam bekerja dengan keteraturan yang nyaris sempurna. Air hujan jatuh ke kanopi hutan, disaring oleh dedaunan, meresap ke tanah, disimpan oleh lapisan organik, lalu dialirkan perlahan melalui sungai menuju laut. Dalam proses itu, air memberi kehidupan—menyuburkan tanah, memberi nutrisi bagi pepohonan, menopang seluruh rantai kehidupan. Inilah siklus alam yang telah berlangsung ribuan tahun.
Namun ketika hutan dibuka tanpa kendali, daerah resapan dipadatkan, sungai dipersempit, dan tata ruang diperlakukan sebagai sekadar peta di atas meja, siklus itu diputus. Air kehilangan tempatnya berpijak. Maka ia turun bukan lagi sebagai berkah, melainkan sebagai daya rusak.
Lalu kita bertanya: mengapa Desember 2025 terasa seperti saat alam membuka seluruh luka lama sekaligus? Jawabannya sederhana namun pahit: sebab selalu mendahului akibat. Dan sebab itu adalah manusia yang lupa pada perannya sendiri.
Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30, ditegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah bukan berarti penguasa yang bebas mengeksploitasi, melainkan pemimpin yang memikul amanah. Pemimpin yang seharusnya menjaga keseimbangan, bukan merusaknya. Ketika amanah itu dilanggar, konsekuensinya tidak bisa dihindari.
Jika hari ini alam menunjukkan taringnya, siapa yang harus bertanggung jawab? Jawabannya bukan satu pihak, bukan satu sektor. Kita semua—yang merasa menjadi bagian dari sistem yang mengatur bumi ini—harus berdiri di depan cermin yang sama.

Yang paling ironis, korban terbesar dari bencana ini bukan hanya manusia. Hewan kehilangan habitatnya, pepohonan tercabut dari tanah yang selama ini mereka jaga, ekosistem runtuh tanpa pernah diberi kesempatan membela diri. Mereka tidak memilih untuk merusak, tetapi tetap menerima hukuman. Bukankah itu ketidakadilan ekologis yang dosanya jauh lebih besar?
Dalam prinsip tiga pilar konservasi, tidak pernah ada larangan untuk memanfaatkan alam. Namun pemanfaatan itu harus berjalan seimbang dengan perlindungan dan pengawetan. Ketika satu pilar runtuh—ketika perlindungan diabaikan, pengawetan dilupakan, dan pemanfaatan berubah menjadi eksploitasi—maka yang terjadi bukan pembangunan, melainkan akumulasi bencana.
Banjir bandang Sumatera bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah hasil dari serangkaian keputusan—izin yang diterbitkan, ruang yang diubah, hutan yang dikorbankan, dan peringatan yang diabaikan. Dalam pengertian itu, ini adalah bencana yang direncanakan, meski tak pernah secara sadar kita akui.
Kini pertanyaannya bukan lagi apa penyebabnya, melainkan apakah kita bersedia kembali ke fitrah. Menjadi khalifah yang rendah hati. Mengakui batas. Menempatkan alam bukan sebagai objek, tetapi sebagai mitra kehidupan.
Jika refleksi ini hanya berhenti sebagai wacana, maka alam—seperti hukum sebab akibat yang tak pernah berdusta—akan kembali memberi jawaban. Dan bisa jadi, jawabannya jauh lebih besar daripada yang kita terima hari ini.**
*) Aktivis LIngkungan dan GHG Expert


No comment