Ajiz S Hamzah: GIS Kunci Penghitungan Stok Karbon

 Ini Perannya dalam Perubahan Iklim dan penghitungan karbon.

Hal itu dijelaskan oleh Ajiz Saidul Hamzah, M.Si, Soil and GIS Expert PT. Cedar Karyatama Lestarindo (CKL), pada kesempatan sebagai pembicara (pemateri) pada Pelatihan Penghitungan Karbon di Bogor hari ini (08/04). Kegiatan yang digelar I-CAN – FINCAPES bersama CKL  tersebut diikuti tak kurang 30 peserta dari berbagai instansi.

Ajiz menjelaskan, bahwa pemanfaatan teknologi Geographic Information System (GIS) dewasa ini semakin menjadi tulang punggung dalam penghitungan stok karbon sektor kehutanan dan lahan (FOLU). Oleh sebab itu, maka dalam pelatihan Carbon Accounting, materi ini begitu penting.

“Bukan hanya alat pemetaan, tetapi juga fondasi pengambilan keputusan dalam aksi mitigasi perubahan iklim,” tegas Ajiz.

Lebih jauh dijelaskannya, bahwa GIS memungkinkan integrasi data spasial seperti citra satelit, foto udara, hingga data lapangan untuk menghasilkan informasi geospasial yang akurat. “Dari sini, potensi karbon suatu wilayah dapat dipetakan secara lebih cepat dan sistematis, termasuk dalam menentukan batas areal, aktivitas proyek, hingga proses monitoring,” tambahnya.

“GIS mengubah data lokasi menjadi informasi strategis yang bisa langsung digunakan untuk perencanaan dan evaluasi proyek karbon,” demikian disampaikannya dalam materi pelatihan. 

Dalam praktiknya, penghitungan karbon berbasis GIS mengacu pada berbagai standar, mulai dari pedoman IPCC hingga Standar Nasional Indonesia (SNI). Prosesnya meliputi klasifikasi tutupan lahan, analisis perubahan lahan, hingga penentuan titik plot sampling di lapangan.

Teknologi penginderaan jauh seperti Landsat dan Sentinel menjadi sumber utama data, dengan pertimbangan resolusi spasial, spektral, dan temporal. Data ini kemudian diolah melalui metode interpretasi visual maupun otomatis, termasuk pendekatan machine learning.

Tak hanya itu, validasi lapangan (ground check) juga menjadi tahapan krusial untuk memastikan akurasi hasil interpretasi. Jika tingkat akurasi di bawah 80 persen, maka perlu dilakukan perbaikan data.

Transparansi & Akurasi

Kembali ditegaska Ajiz, bahwa hasil analisis GIS ini sangat penting, tidak hanya untuk menghitung stok karbon, tetapi juga sebagai dasar penyusunan baseline emisi, penentuan lokasi prioritas mitigasi, hingga kebijakan pemerintah dalam pengurangan emisi.

Contoh hasil analisis menunjukkan, bahwa perubahan tutupan lahan dapat berdampak signifikan terhadap emisi karbon, dengan potensi pelepasan mencapai ratusan ribu ton CO₂ ekuivalen.

Dengan peran strategis tersebut, jelasnya, GIS kini menjadi alat utama dalam memastikan transparansi, akurasi, dan efektivitas proyek karbon di Indonesia.

***Riz***

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *