Anomali iklim kembali melanda beberapa daerah di Indonesia. Prediksi masuk musim kemarau meleset. Hujan lebat pun berbuah bencana.
PANCAROBA iklim kembali menebar bencana. Banjir dan longsor terjadi di beberapa daerah.
Para petani di sejumlah sentra produksi pun terjebak ‘teka-teki cuaca’ yang susah ditebak. “Amburadul, rencana jadi acak-acakan. Diharapkan panen jahe September sepertinya harus dipercepat kalau tidak mau tunas baru muncul, dan jahe muda lagi,” ungkap Nurhayati,” ibu muda petani jahe di Sindanglaya Cipanas – Cianjur.
Sementara Kota Jakarta dan wilayah lain di Jabodetabek terendam banjir. “Biasanya banjir terjadi Januari atau Pebruari, sekarang malah di bulan Juli yang biasanya kemarau,” kata Ibramsyah (57 th) warga Jakarta Timur.
Bergeser
Berdasarkan pola iklim tropis, musim kemarau biasanya dimulai pada bulan Juni dan berlangsung hingga bulan Oktober, terutama di bagian selatan ekuator seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Namun, pada Juli 2025, pola ini tampaknya bergeser. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih mengguyur sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek dan sentra pertanian di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan hujan akan terus turun di musim kemarau. Hasil prediksi curah hujan bulanan menunjukkan bahwa anomali curah hujan yang sudah terjadi sejak Mei 2025 akan terus berlangsung, dengan kondisi curah hujan di atas normal terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia hingga Oktober 2025.
Prediksi Musim
Dilansir dari publikasi BMKG, hasil pemutakhiran awal musim kemarau 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah yang mengalami perubahan mengalami pergeseran ke waktu awal musim yang datang lebih lambat dibandingkan prediksi Februari, terutama di Jawa dan Bali-Nusa Tenggara. Di Jawa, banyak ZOM yang semula diprediksi mengalami awal musim pada April III–Mei I kini bergeser menjadi Mei III– Juni I, dengan pergeseran mencapai 3–5 dasarian, khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Sementara di Bali dan Nusa Tenggara, pergeseran rata-rata terjadi 2–4 dasarian, dari April II– Mei I menjadi Mei III–Juni I. Pergeseran ini juga menyebabkan kemarau datang lebih lambat dari normal di sebagian besar wilayah yang dimutakhirkan.
***Riz***


No comment