Tanimbar, ‘Secuil Surga’ di Timur Nusantara

Sebuah Ekosistem yang Mempesona terbentang di Tanimbar. Suatu kekayaan yang tak ternilai angka, di tengah era Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dewasa ini. Inilah Non Carbon Benefit…

GARIS hayal Weber tentunya tak sekedar hayalan. Jauh waktu, dan dari penjuru dunia yang juga jauh (Jerman), seorang peneliti, Max Carl Wilhem Weber, telah menetapkan sebidang lanskap bumi, sebagai lokasi yang unik dari sisi biodiversitas, khususnya fauna.

Salah-satunya ialah Kepulauan Tanimbar, sebuah gugusan pulau dalam Provinsi Maluku. Weber menemukan bahwa batas pemisah antara fauna Asia dengan Australia melewati Kepulauan Tanimbar. Kepulauan Tanimbar  berseberangan tepat di utara Darwin – Australia, antara perbatasan Laut Banda dan Arafura.

Harus Terjaga

Ekosistem di Kepulauan Tanimbar bagaikan ‘secuil surga’ di jagat raya. Tentunya ini menjadi sebuah kebanggaan Nusantara (Indonesia) yang perlu dilestarikan agar tetap terjaga.  

Garis khayal itu memberi kenyataan. Beragam fauna di kawasan Tanimbar begitu indah, penuh warna-warni, serta unik di tengah belantara rimba yang lestari. Tentu, semua insan pasti berharap; ekosistem dalam zona yang dibatasi oleh Garis Weber tersebut tetap terjaga.
Pulau Yamdena di Kepulauan Tanimbar mempunyai tiga jenis hutan penuh dengan pohon-pohon berdaun lebar bernilai tinggi.  Dikutip dari sebuah publikasi pada situs CIFOR, bahwa di Yamdena, yang merupakan pulau terbesar di Kepulauan Tanimbar, hutan dibagi dalam tiga jenis hutan, yakni lembab gugur, kering gugur dan hutan basah sepanjang tahun.

Kawasan hutan di Yamdena dipenuhi beberapa pohon kayu paling berharga di dunia – Pterocarpus indicus, lebih dikenal sebagai angsana atau sonokembang; dan Intsia bijuga atau merbau – flora asiatik hutan di Tanimbar

Tetap Lestari

Beruntung, hingga kini kawasan hutan di pulau tersebut masih lestari. Hutan yang terjaga pun tetap menjadi rumah atau tempat singgah aneka jenis fauna.

“Burung-burung indah yang mungkin tidak ditemui di daerah lain (di Indonesia), di hutan Tanimbar berkeliaran bebas. Jenisnya sangat beragam,” tutur salah-seorang koresponden GI yang ikut sebagai tim survey di hutan Tanimbar beberapa waktu lalu. 

Potret keindahan gugusan pulau di zona Garis Weber tersebut sungguh mempesona. Mungkin itu hanya segelintir, karena keterbatasan waktu sembari menjalankan tugas pokok dalam rangka penghitungan karbon hutan. Tentunya di alam bebas masih banyak fauna lain yang tak kalah unik dan indah, serta bernilai tinggi.

Inilah sekelumit gambaran Non Carbon Benefit di Tanimbar – Maluku. Semoga tetap lestari. (FA Kartono)

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *