Si Biji ‘Rasa Emas’

Pahit-pahit manis, semanis bisnisnya. Ngopi dulu aja broo..!

PETANI kopi tampaknya kian sumringah. Akhir-akhir ini komoditas beraroma sedap itu naik harganya.

Seperti diungkapkan Destyana (2023), kopi mampu menghasilkan pendapatan sekitar lima puluh juta rupiah per hektar. Penilaian ini dilansir dari penelitiannya di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Salah satu kelompok tani yang bernama Kelompok Tani Hutan Margo Rukun II, membuktikan bahwa kopi yang dipanen adalah hasil tani yang paling ditunggu.

Tanaman kopi itu pendek. Tidak besar batangnya dan tidak besar juga buahnya. Pohonnya setinggi manusia, sehingga mudah saja bila mau ambil buahnya. Ranting pohonnya menjulang ke samping,  seolah-olah  menjulurkan tangan untuk memberikan buahnya.

Kopi memang sahabat petani. Tidak menyusahkan untuk dirawat dan buahnya mudah dijangkau saat panen. Kopi juga sangat bersahabat dengan tanaman pertaniannya. Dia bisa hidup berdampingan dengan pohon pisang,  durian, bahkan pohon berkayu keras lainnya.

Bisnis Manis

Satu pohon kopi dapat melahirkan 15 kg buah ceri. Ceri adalah buah cantik dengan karakteristik warna merah. Dari 15 kg ceri tersebut, dapat menghasilkan ‘biji emas’ sekitar sembilan kilogram. Disebut ‘emas’ karena nilainya yang tinggi.

Petani butuh waktu satu tahun lamanya untuk melahirkan biji emas itu. Maka  wajar saja, bila harga jualnya sangat mahal.

Bayangkan, bila satu kilogram  biji saja dijual dua ratus ribu rupiah, maka bila sembilan kilogram  terjual, akan menghasilkan uang sekitar satu juta delapan ratus ribu rupiah. Inilah mengapa biji kopi ini itu mahal seperti emas. Inilah fakta, bahwa bayangan pendapatan berbisnis kopi ternyata bukan sekedar ‘isapan jempol’ belaka.

Kopi memiliki harga yang mahal bila sudah diolah. Apalagi ketika sudah tersaji di resto, meruapkan aroma yang sedap siap diseruput… *

(Resta)

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *