Sertifikasi Porter di TNGR: Apa Manfaatnya, Pentingkah?

Oleh: Kresno Agus Hendarto1, Shine Pintor Siolemba Patiro2, Sanusi1, Yumantoko1 dan Tri Dasta Nursehaneka Yatma3

PENDAKIAN di Gunung Rinjani, menurut Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Baequni, merupakan pendakian pada medan yang terbentuk dari aktivitas vulkanik. Aktivitas ini menghasilkan tebing yang curam, kaldera yang tajam, paparan gas sulfur yang beresiko tinggi bagi pendaki pemula. Selain itu, keberadaan Danau Segara Anak membuat gunung ini berbeda dari pegunungan non-vulkanik seperti Alpen atau Andes.

Pada akhir Juni lalu, seorang pendaki asal Brazil, Juliana Marins, meninggal dunia karena terperosok di jurang di Cemara Nunggal, Gunung Rinjani. Setelah itu Rabu 16 Juli 2025 seorang pendaki asal Swis, Benedikt Emmenegger, terjatuh di jalur pendakian dan mengalami patah tulang. Setelah itu 17 Juli 2025, pendaki asal Belanda, Sarah Tamar van Hulten juga mengalami kecelakaan. Beberapa bulan sebelumnya, 4 Mei 2025 pendaki asal Malaysia, Rennie Abdul Ghani meninggal dunia ketika melakukan pendakian melalui jalur Torean.

Lakukan Pembenahan

Beberapa perbaikan telah dilakukan di Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), seperti: (1) Kerja sama dan koordinasi dengan kementerian/ lembaga terkait; (2) Penyempurnaan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) terkait wisata pendakian gunung.

Sumber foto: Yumantoko, Koleksi Pribadi

Selanjutnya ialah;(3) Perbaikan jalur pendakian, pengadaan sarana dan prasarana, serta penyempurnaansistem pendukung; (4) Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM); dan (5) Verifikasi jalur pendakian oleh tim gabungan.

Dari beberapa yang telah dilakukan tersebut, menurut kami masih banyak hal yang belum tersentuh. Salah satunya adalah sertifikasi bagi porter. Tulisan ini ingin menjawab pertanyaan mengapa hal ini penting dan apa manfaatnya.

Ada banyak porter yang bersedia membantu pendaki, tentunya dengan imbalan. Jumlahnya pada tahun 2018 diperkirakan 855 orang (Tempo, 2024) Tugas mereka adalah membantu pendaki, terutama membawakan barang-barang pendaki. Seiring semakin maraknya pendakian ke Rinjani, kualitas layanan dan jumlah porter diprediksi bertambah.

Pada tahun 2018 saja, jumlah porter di sana sudah mencapai 855 orang. Dengan semakin banyaknya porter, mereka juga sering mendapat pelatihan-pelatihan. Namun demikian pelatihan saja tidak cukup, mereka perlu mendapatkan sertifikasi.

Sertifikasi Porter

Manfaat dari sertifikasi porter adalah: (1) meningkatkan keahlian dan pengetahuan. Untuk mendapatkan sertifikasi diperlukan ujian. Dengan ujian, mau tidak mau porter akan belajar baik materi, konsep maupun praktek di bidang tertentu. Selain itu ujian ini juga merupakan alat yang objektif dalam memvalidasi kemampuan seseorang. Dengan kata lain apakah mereka benar- benar menguasai standar pengetahuan tertentu atau tidak; (2) meningkatkan ketrampilan yang berkelanjutan.

Mengubah pola pikir porter dari belajar hanya di sekolah menjadi belajar adalah proses yang terjadi seumur hidup. Setiap saat akan nda teknologi baru, metode baru dan tantangan baru yang memerlukan pengetahuan tambahan. Pengetahuan tambahan ini umumnya akan disampaikan dalam memperoleh sertifikasi. (3) Mengurangi kesenjangan ketrampilan antar porter.

Dalam pelatihan sertifikasi, porter diajarkan pelatihan dasar. Mereka akan menjalani pelatihan intensif bagaimana menggunakan Standar Operating Procedure (SOP) yang telah terstandarisasi.

Sering kali kesenjangan terjadi dalam hal ketrampilan lunak (soft skills). Sehingga dalam pelatihan penekanan pada ketrampilan komunikasi yang efektif, bagaimana menunjukkan keramahan pada pengunjung, bagaimana keluhan pengunjung ditangani dengan baik, serta bagaimana perlakuan pada pengunjung berkebutuhan khusus, akan banyak mendapat porsi pelatihan; (4) meningkatkan kepercayaan diri dan profesionalisme.

Sikap, penampilan dan cara kerja merupakan cerminan dari profesionalisme. Penampilan yang standar, seperti penggunaan tanda pengenal, kebersihan diri (kerapian rambut, kuku yang pendek, alas kaki yang terawat), dan lain sebagainya akan menunjukkan profesionalisme.

Sedangkan kompetensi dan penghargaan akan menumbuhkan kepercayaan diri. Seperti bagaimana penanganan situasi sulit dengan tenang, tidak dengan defensive dan panic akan ditekankan dalam pelatihan’.

Selanjutnya (5) Meningkatkan daya saing. Dengan menggunakan prinsip keunggulan kompetitif yang berfokus pada diferensiasi layanan dan efisiensi keunggulan daya saing, hal ini bias dilakukan. Sebagai contoh, memasarkan layanan porter sebagai layanan bantuan premium, bukan sekadar angkut barang, tetapi sebagai asisten perjalanan pribadi yang efisien dan tepercaya; yang  bisa dilakukan baik oleh agen pendakian local (trekking organizer) atau oleh BTNGR.

Terakhir, bagaimana dengan pembiayaan sertifikasi? Pada umumnya sertifikasi seperti ini dilakukan dengan biaya mandiri atau ditanggung oleh trekking organizer. Bagaimana bila tidak punya biaya? TNGR dapat melakukan kolaborasi baik dengan pemerintah daerah maupun penyedia layanan sertifikasi, untuk melakukan hal itu.***

1Badan Riset dan Inovasi Nasioanal, Jakarta .2 Universitas Terbuka, Tangerang Selatan. 3 Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Mataram

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *