Menurut petani di Cipanas, sayur berumur pendek itu sengaja tidak ditanam banyak. Untuk permintaan khusus saja.
BICARA Selada, mungkin bukan hal baru bagi pembaca. Sayuran hijau lembut-lemas tersebut biasa disajikan sebagai lalapan (mentah) di restoran bahkan warung tenda pecel ayam. Sebenarnya selain selada hijau yang biasa dikonsumsi umum, ada juga selada merah, namun keberadaannya boleh dikatakan terbatas.

Minggu lalu, GI jalan pagi mengelilingi kawasan perumahan di Cipanas, tepatnya di hamparan kebun sayuran yang menyelingi komplek dimana GI berdomisili. Di sebuah pojok, hamparan pertanaman begitu eye catching, hijau kemerahan dan sedikit keunguan. ‘Selada merah’.
Menurut petaninya, sayur berumur pendek itu sengaja tidak ditanam banyak. “Untuk permintaan khusus saja. Kalau panen banyak, harga bisa turun,” ucapnya.
Kaya Antioksidan
Selada merah umumnya dikonsumsi dalam bentuk segar sebagai lalapan karena memiliki warna dan tekstur serta aroma yang menyegarkan tampilan makanan. Dapat pula dikonsumsi setelah diolah terlebih dahulu.
Perbedaan utama selada merah dan hijau terletak pada warna, tekstur, rasa, dan kandungan nutrisi. Selada merah memiliki warna kemerahan di ujungnya dengan tekstur lebih lembut dan rasa sedikit manis dengan sentuhan pahit.
Konon, dan diperkuat keterangan dari sejumlah publikasi, sayur ini memiliki banyak manfaat kesehatan. Diantaranya menjaga kesehatan tulang dan mata, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, serta membantu mengontrol tekanan darah dan berat badan.
Selada merah kaya akan vitamin A, vitamin K, antioksidan, dan mineral, serta memiliki kandungan air yang tinggi untuk menghidrasi tubuh.
***Riz***


No comment