Dosen IPB gandeng ibu-Ibu tani Desa Karyasari ikut andil dalam pelatihan pengukuran dimensi pohon. Melalui kegiatan ini tercipta hubungan yang lebih dalam antara warga dan pohon-pohon yang mereka tanam.

ADA pemandangan yang menginspirasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakan oleh Tim Dosen Departemen Manajemen Hutan, Institut Pertanian Bogor di Desa Karyasari, 10 Agusutus lalu.
Di antara puluhan peserta pelatihan pengukuran dimensi pohon (diameter dan tinggi), terlihat sejumlah perempuan dan ibu-ibu tani yang turut aktif belajar dan praktik di lapangan. Kehadiran mereka mematahkan stigma bahwa urusan kehutanan hanya milik kaum laki-laki.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program Dosen Pulang Kampung yang diketuai oleh Qori Pebrial Ilham. Para anggotanya terdiri dari Muhdin, Priyanto, Sri Rahaju, Nining Puspaningsih dan Hardjanto.
Pelatihan itu bertema Pendugaan Volume Pohon Untuk Menaksir Potensi Hutan Rakyat Guna Mewujudkan Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari. Para pesertanya meliputi anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) KWT Sipon Harum Lestari dan KTH Harapan Maju. Melalui kegiatan ini tercipta hubungan yang lebih dalam antara warga dan pohon-pohon yang mereka tanam.
Bagi banyak peserta, momen memeluk batang pohon dengan pita ukur menjadi pengalaman pertama untuk benar-benar “mengenal” aset hayati mereka.
Interaktif
Salah satu tim dosen, Dra. Sri Rahaju, M.Si, menyampaikan bahwa pelatihan ini penting agar masyarakat memiliki kemampuan teknis mendasar dalam menghitung potensi kayu secara akurat. “Tahapan pengukuran dimensi pohon merupakan dasar bagi semua proses penaksiran,” tegasnya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif, diawali dengan penyampaian materi dasar mengenai pengukuran diameter dan tinggi pohon. Para dosen menjelaskan pula pentingnya inventarisasi dalam rangka menetapkan taksiran volume kayu dan merencanakan pemanenan lestari.
“Kami merasa terbantu dengan pelatihan ini. Selama ini kami hanya menaksir ukuran pohon berdasarkan perkiraan, sehingga hasil penaksirannya kurang akurat,” ungkap Sri Widianingsih, Ketua KWT Sipon Harum Lestari.
Kelola Asset Keluarga
Pada sesi praktik, peserta diberikan kesempatan untuk mencoba langsung melakukan pengukuran. Teknik pengukuran dijelaskan serta dicontohkan di lapangan untuk memastikan peserta memahami secara baik.
Siti Sopiah, salah satu peserta, berbagi pengalamannya dengan semangat. “Baru kali ini saya memahami cara mengukur diameter dan tinggi pohon dengan benar. Ternyata tidak sulit dan sangat bermanfaat untuk menghitung potensi kayu milik kami,” ujarnya.
Ditambahkannya bahwa, biasanya urusan kebun dan jual kayu itu dilakukan oleh suaminya. “Setelah ikut pelatihan ini, saya jadi paham hitung-hitungannya. Nanti di rumah saya bisa ikut berdiskusi dan memberi masukan. Perempuan juga harus pintar mengelola aset keluarga, termasuk pohon di kebun,” ungkap Sopiah.
Antusiasme terhadap pelatihan selanjutnya sangat tinggi di kalangan peserta. Mereka merasa sudah memiliki “kunci” (data pengukuran) dan kini tidak sabar untuk belajar bagaimana cara “membuka pintu” (menghitung volume dan nilai pohon).
Rumus Sederhana
“Kami sangat gembira melihat para peserta sudah bisa mengukur pohon. Ini modal yang luar biasa,” kata Dr. Nining Puspaningsih, M.Si, salah satu dosen pendamping.

“Di pelatihan kedua nanti, kami akan sampaikan “cara menyulap” data diameter dan tinggi itu menjadi angka volume dalam satuan meter kubik (m3) menggunakan rumus-rumus sederhana. Dari situlah mereka bisa mulai menaksir potensi ekonomi hutan mereka,” tambah Nining.
Pelatihan lanjutan tersebut direncanakan diadakan dalam pada minggu terakhir di Agustus 2025, saat ini memberikan kesempatan bagi warga untuk mempraktikkan terlebih dahulu keterampilan mengukur di kebun mereka masing-masing.
(Hardjanto)


No comment