Didin berbagi kisahnya tentang budidaya ikan hias, sebuah usaha yang lahir sederhana namun menyimpan keindahan dan ketekunan.

BAGI sebagian orang, halaman rumah hanyalah ruang kosong untuk parkir atau menjemur pakaian. Namun bagi Bapak Didin, halaman kecil di Jl. Atang Senjaya, Pasirgaok, Kec. Ranca Bungur, Kabupaten Bogor justru menjelma menjadi sumber kehidupan tempat ikan-ikan hias yang perlahan membawa rezeki.
“Semua tergantung kreativitas kita. Apa yang ada, ya itu yang dimanfaatkan,” ucapnya sambil menunjuk deretan kolam kecil di halaman rumahnya.
Dari Hobi Jadi Bisnis
Awalnya, Bapak Didin hanya memelihara beberapa ekor ikan hias sekadar untuk hiburan. Namun seiring waktu, kegemarannya bertransformasi menjadi usaha yang serius. “Awalnya untuk senang-senang, lalu ingin menutup kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah bisa berkembang,” imbuhnya.
Perjalanannya tentu tidak selalu mulus. Dari kolam bambu sederhana hingga kini memiliki beberapa kolam permanen, semua dibangun dengan kesabaran. “Namanya merintis, ada jatuh bangunnya. Kadang rugi karena ikan sakit atau air tidak stabil. Tapi dari rugi itu kita belajar,” tegasnya.
Belajar dari Pasar
Dulu, Bapak Didin sempat berkeliling ke kios-kios ikan hias di Bogor, menawarkan hasil budidayanya. “Ada yang mau, ada juga yang menolak. Tapi dari situ saya tahu apa yang pasar suka,”ujarnya. Pengalaman itu membuatnya paham bahwa budidaya bukan hanya soal memberi pakan, tapi juga soal membaca permintaan dan tren.
Kini, ia bekerja sama dengan pemasok dan eksportir. Sistemnya sederhana: ketika ada permintaan, ia yang memproduksi. Walau skala usaha masih rumahan, ia bisa mengelola sendiri sehingga lebih mandiri.
Rezeki yang Mengalir
Harga ikan kadang naik, kadang jatuh. Musim hujan membawa tantangan pada kualitas air, sementara musim panas bisa memberi panen yang lebih stabil. Namun bagi Bapak Didin, usaha ini lebih dari sekadar untung-rugi.
“Yang penting tetap jalan, bisa buat hidup keluarga, dan insyaallah berkah,” tuturnya.

Kini, ia juga aktif dalam kelompok kecil beranggotakan 28 orang pembudidaya. Mereka saling berbagi pengalaman, aturan, hingga pemasaran agar bisa maju bersama.
Pesan terakhirnya sederhana, tapi penuh makna:“Kalau mau budidaya ikan, jangan setengah hati. Harus sabar, ulet, dan jangan berhenti belajar dari air.
Chandra Oktavianto, Mhs. ESL IPB


No comment