Selain menjadi benteng alami bagi pesisir, mangrove juga bermanfaat sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat Desa Liagu. Berikut wawancara (via zoom) GI dengan Rachman Pasha dari Green Global Growth Indonesia.

INDONESIA dianugerahi kekayaan mangrove terbesar di dunia. Sekitar 20% dari total ekosistem mangrove global berada di negeri ini. Keberadaan mangrove bukan sekadar lanskap hijau di wilayah pesisir, melainkan benteng alami yang menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus menopang kehidupan masyarakat.
Hutan mangrove memiliki kemampuan luar biasa dalam menyimpan karbon, bahkan hingga empat kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Akar-akarnya yang kokoh berperan menahan gelombang laut, mengurangi dampak badai, serta mencegah abrasi pantai. Tak hanya itu, ekosistem ini juga menjadi rumah bagi beragam satwa liar, mulai dari ikan, udang, kepiting, hingga berbagai jenis burung.
Penggerak Ekonomi
Manfaat mangrove tidak berhenti pada aspek ekologis. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya, mangrove adalah sumber kehidupan. Hal ini dirasakan langsung oleh warga Desa Liagu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, yang telah lama bergantung pada kawasan mangrove di sekitar permukiman mereka.
Menurut Rachman Pasha, MEL Senior Officer – Green Global Growth Institute (GGGI), kawasan mangrove Desa Liagu dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pangan, bahan bangunan, hingga ekowisata. Melimpahnya hasil laut seperti ikan, udang, dan kepiting mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari warga. Praktik pemanfaatan ini bahkan telah berlangsung secara turun-temurun selama lebih dari 50 tahun.

Rachman juga menjelaskan bahwa hasil tangkapan tersebut juga menjadi sumber pendapatan utama masyarakat. Hasil tangkapan seperti ikan, udang, dan kepiting dari Desa Liagu telah dipasarkan di pasar lokal, bahkan hingga ekspor ke luar negeri.
Seiring waktu, warga pun terus berinovasi dengan mengembangkan produk turunan seperti kerupuk udang, ikan asap, dan sambal khas pesisir. Produk-produk ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian desa, dan hingga kini masih terus dikembangkan agar mampu menembus pasar luar daerah.
Bahan Bangunan Hingga Ekowisata
Selain sebagai sumber pangan, mangrove juga dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti pembuatan dermaga atau rumah. Kayu mangrove dikenal memiliki ketahanan terhadap air dan serangan hama, sehingga dinilai awet dan kuat untuk digunakan dalam jangka panjang.
“Kawasan mangrove Desa Liagu juga mulai menarik perhatian wisatawan dari luar daerah. Aktivitas wisata yang ditawarkan pun beragam, mulai dari memancing, wisata kuliner, hingga pengamatan satwa liar seperti bekantan, burung laut maupun ikan pesut,” kata Rachman. Keindahan alam yang berpadu dengan keanekaragaman hayati menjadikan mangrove di desa ini sebagai daya tarik wisata berbasis alam yang menjanjikan.
Mangrove untuk Masa Depan
Melihat besarnya potensi mangrove di Desa Liagu, upaya pengembangan dan pelestarian menjadi hal yang tak terpisahkan. Tingginya ketergantungan masyarakat terhadap ekosistem ini mendorong berbagai pihak untuk turut berkontribusi. Pemerintah daerah, Kementerian Kehutanan, serta lembaga seperti Green Global Growth Institute (GGGI) terlibat aktif melalui program pembangunan berkelanjutan.

Lebih jauh dituturkan Rachman, bahwa program-program tersebut mencakup pengembangan kapasitas masyarakat hingga peningkatan produktivitas hasil panen, dengan tetap mengedepankan prinsip kelestarian lingkungan. Dengan pengelolaan yang bijak, mangrove tidak hanya mampu menjaga pesisir, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan generasi mendatang.
**Daffa, Fahutan IPB**


No comment