Kepulauan Seribu, menawan sekaligus rawan. Selain curah hujan tinggi kawasan ini juga menghadapi potensi kenaikan muka air laut, angin kencang dan puting beliung yang sering melanda perairan.
MESKI jumlahnya cuma sekitar 300-an, gugusan pulau di Laut Jawa yang masuk dalam wilayah Jakarta itu dinamakan ‘Pulau Seribu’. Mayoritas penduduk Kepulauan Seribu beragama Islam. Mereka berasal dari Suku Betawi, Orang Pulo, Suku Melayu, Sunda, Bugis, Mandar dan Tidung.

“Umumnya kami di sini berdarah campuran,” tutur motoris perahu yang mengantar GI bersama staf PT. Cedar Karyatama Lestarindo (CKL) ke sebuah spot snorkeling beberapa waktu lalu. Kesempatan itu adalah salah-satu rangkaian kegiatan Family Gathering jelang akhir tahun. Turut serta lima Mahasiswa ESL IPB dalam kegiatan ekowisata maritim tersebut.
CKL adalah perusahaan terkemuka layanan jasa konsultan penghitungan karbon, AMDAL dan pembuatan Dokumen Rencana Aksi Mitigasi (DRAM) perubahan iklim yang berkantor di Bogor.
Di Pulau Pari, mereka melakukan berbagai olahraga air, bersepeda, atau sekadar menikmati keindahan pemandangan dan matahari terbenam. Kebesamaan itu berlanjut hingga jelang tengah malam dengan barbekyu di Pasir Perawan.
Menawan Juga Rawan
Gugus pulau di Laut Jawa yang berdekatan dengan metropolitan Jakarta itu sungguh menawan. Selain merupakan obyek ekowisata maritim, masyarakat di kepulauan ini adalah nelayan yang menghasilkan beberapa jenis ikan populer, seperti tongkol, tenggiri, cumi dan udang.

Disamping menawan, menurut beberapa publikasi, kepulauan seribu juga termasuk kawasan ‘rawan’. Selain curah hujan tinggi juga menghadapi potensi kenaikan muka air laut, angin kencang dan puting beliung yang sering melanda perairan.
***Riz***


No comment