Saat laut sepi ikan, para nelayan pun beralih ke profesi pemandu wisata.
MUSIM Barat. Gelombang laut yang memisahkan Jakarta dengan Kepulauan Seribu, sore itu cukup bergejolak.
“Perhatian, pakailah life jacket, terutama yang berada di lantai atas. Cuaca sedang kurang bersahabat..!” Demikian suara dari megaphone toa di pelabuhan Pulau Pari, saat GI naik kapal menuju Muara Karang – Jakarta.

Hari itu Kamis (13/11/25), usai GI mengikuti Family Gathering PT. Cedar Karyatama Lestarindo (CKL) di Kepulauan Seribu (Pulau Pari) selama dua hari. Kegiatan tersebut sekaligus menandai penghujung kebersamaan (magang) kerja beberapa Mahasiswa ESL IPB University di PT. CKL.
Ekonomi Maritim
Warga Pulau Pari, seperti dikatakan Mustar – (guide) perjalanan dan Gathering CKL itu, di musim ‘angin barat’ sekarang ini, lebih banyak mengandalkan ekonominya di pariwisata (ekowisata laut).
“Penduduk enggan melaut mencari ikan. Alasannya, selain cuaca kurang bersahabat, ikannya juga sedikit. Tidak imbang antara biaya dan hasil tangkapan,” ujarnya.
“Jadi, lebih baik menjalankan layanan wisata. Hasilnya lebih jelas,” tambah Mustar.
Namun dia tidak menampik, bahwa profesinya memang ganda. “Nanti saat pertengahan musim barat, atau istilah nelayan Pulau Pari; ‘musim teduh’, nyaris semua penduduk pulau tersebut, turun melaut, ” jelasnya.

Dikatakannya, saat musim teduh –sekitar Pebruari hingga April, perairan Kepulauan Seribu dibanjiri ikan dan cumi-cumi. “Ikan-ikan berdatangan entah dari mana. Utamanya tongkol, tenggiri dan kakap,” tutur nelayan dan salah-satu pemandu wisata Kepulauan Seribu tersebut.
Kenapa disebut ‘musim teduh?’ Sementara diketahui bahwa musim barat berlangsung dari November hingga September – Oktober. Bahkan Pebruari hingga April, sebenarnya merupakan pucaknya musim barat.
Di Pulau Pari, rutin terjadi, pada bulan tersebut beragam ikan kecil lagi banyak di perairan pantai serta karang di sekitar Kepulauan Seribu. “Ikan-ikan besar pyn berdatangan untuk mencari makan,” kata Mustar.
***Riz***


No comment