Ada kisah ajaib dari Pulau Obi, Maluku Utara. Tentang sebuah pohon yang berbeda dari kebanyakan. Manusia dan hewan memang dikenal memiliki naluri melindungi anaknya demi kelangsungan hidup keturunan. Namun bagaimana jika ada pohon yang rela mati demi memberi jalan bagi anaknya? Inilah yang membuat pohon ini begitu istimewa.
UNIK. Masyarakat setempat menamainya Pohon Anak Banyak. Julukan ini tidak berlebihan, sebab pohon tersebut seakan menunjukkan sikap layaknya manusia, bahkan seperti malaikat. Ia rela mengorbankan dirinya agar anak-anaknya bisa tumbuh, berkembang, dan bertahan hidup di tengah persaingan keras pohon-pohon hutan yang berebut tanah, ruang, dan cahaya matahari.

Proses regenerasinya berlangsung berulang. Pohon induk atau generasi pertama akan mati perlahan setelah anaknya tumbuh dengan diameter sekitar 30–40 cm. Kemudian, generasi kedua pun akan melakukan hal yang sama ketika generasi ketiga sudah cukup kuat. Begitu pula generasi ketiga akan “mundur” demi memberi tempat bagi generasi keempat, dan seterusnya. Siklus pengorbanan ini terus berlangsung tanpa henti.
Empat Bagian Tak Tergantikan
Uniknya, setiap generasi baru tumbuh di pangkal batang induknya, pada ketinggian rendah sekitar 0–150 cm dari tanah. Batang induk yang mati tetap berdiri di atasnya, seakan menjadi pelindung bagi anak yang baru lahir. Sementara itu, pangkal batang dan akar tetap hidup, menopang anak-anak yang akan meneruskan kehidupan.
Ada empat hal yang selalu diwariskan dari induk ke anak. Pertama, pangkal pohon tetap hidup sementara batang utama yang berganti. Kedua, akar utama tidak pernah ditinggalkan, melainkan tetap dipakai oleh generasi berikutnya. Ketiga, ruang tumbuh tetap sama seperti yang ditempati induknya. Dan keempat, cahaya matahari yang sudah diperoleh induk tetap bisa dinikmati oleh anaknya di ruang yang sama.
Tak Hanya Mempertahankan Diri
Dengan cara ini, pohon generasi baru memanfaatkan seluruh fasilitas yang pernah digunakan oleh induknya. Tidak ada yang hilang, hanya berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seolah-olah pohon itu sadar bahwa untuk bertahan hidup, ia harus merelakan tubuhnya sendiri demi memberi kesempatan pada keturunannya.
Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan. Mengapa pohon ini rela berkorban? Apakah pohon benar-benar memiliki “pikiran” dan “hati”? Atau, inikah cara alam menjaga keseimbangan, menunjukkan bahwa keberlanjutan kehidupan hanya mungkin terjadi lewat pengorbanan? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat kita merenung lebih dalam.

Dari Pohon Anak Banyak, kita belajar bahwa alam menyimpan kearifan yang luar biasa. Pohon ini mengajarkan kita arti pengorbanan, keberlanjutan, dan kasih sayang yang melampaui logika. Sebuah pesan sederhana namun mendalam: hidup bukan hanya tentang mempertahankan diri, tetapi juga tentang memberi jalan bagi generasi berikutnya.
Muhammad RidwanPimpinan Umum GREEN Indonesia


No comment