Meski kemasannya berubah, tradisi lamporan tetap menjaga nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur.
INI cerita unik dari Desa Dalangan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora – Jawa Tengah. Hal ini tergambarkan oleh penulis yang ikut merasakan langsung momen keliling obor saat sedang menjalankan KKN-T IPB di kawasan itu beberapa waktu lalu.
Di Desa Dalangan ada sebuah tradisi yang bernama ‘Lamporan’. Ini merupakan salah satu tradisi unik yang dilakukan setiap tahun pada bulan suro di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Lamporan adalah wujud rasa syukur warga kepada Tuhan atas hasil panen yang diterima dan doa untuk musim berikutnya.
Bedanya dengan tradisi di daerah lain, keliling obor ini dilakukan selama satu minggu. Selama tujuh malam, warga berjalan keliling desa membawa obor menyala, seolah memagari kampung dari bala. Api itu diyakini sebagai cahaya kebaikan yang mengusir gelap, melambangkan perlindungan dari penyakit, bencana, dan konflik.
Perkembangan Zaman
“Dulu, lamporan itu kegiatan sakral yang penuh hal spiritual, sehingga hanya beberapa orang saja yang boleh mengikuti lamporan. Sekarang, lamporan sudah jadi hiburan bagi warga desa yang bisa diikuti oleh semua kalangan”. – tutur salah satu warga desa.

Penulis, yang sedang menjalani masa KKN di desa Dalangan, ikut merasakan langsung momen keliling obor tersebut. Berbagai kalangan mulai dari anak-anak, remaja, tua dan muda mengikuti kegiatan ini setiap malam selama satu minggu.
Hari terakhir setelah rangkaian selama satu minggu merupakan puncak dari tradisi lamporan. Berbagai penampilan seni dikemas agar selaras dengan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai adat.
Semangat Gotong Royong
Puncak tradisi lamporan ini tidak hanya dinantikan bagi masyarakat Desa Dalangan. Warga dari desa-desa sekitar pun berdatangan untuk menyaksikan kemeriahannya. Suasana menjadi ajang silaturahmi besar, mempertemukan kerabat dan saudara lintas desa.
Meski kemasannya berubah, tradisi lamporan tetap menjaga nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Lamporan diharapkan menjadi tradisi yang sebisa mungkin tidak hilang ditelan zaman.
“Tradisi lamporan ini sudah lama ada di desa ini, sudah lintas generasi dari zaman ke zaman. Sebisa mungkin tidak hilang agar anak cucu kami masih bisa merasakan tradisi lamporan”. Pesan salah-seoranmg sesepuh desa.
(Chandra, Mahasiswa ESL IPB 59)


No comment