Di Sukabumi, kini beberapa petani yang sudah mulai mengenal dan tahu manfaat ekonomis dari tanaman nilam. Hanya saja mereka terbertur dengan permodalan pengadaan bibit.
HILIRISASI minyak atsiri tengah dipacu. Setidaknya, mulai tahun ini SAAT ini Kementrian Perindustrian RI telah mencanangkan hilirisasi industri minyak beraroma sedap itu. Namun sayangnya, hal ini masih terdengar asing di telinga, termasuk di kalangan ‘pemain’ minyak atsiri itu sendiri.
Minyak atsiri atau serinig disebut essential oil merupakan minyak yang dihasilkan dari proses ekstraksi dari semua tanaman yang digunakan untuk industri parfum, kosmetik, dan kesehatan (Hendri 2019).

Menurut data Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian, pada tahun 2024, nilai ekspor minyak atsiri Indonesia mencapai 259,54 juta dolar AS.
Secara global Indonesia menduduki peringkat ke-8 sebagai eksportir minyak atsiri dunia dengan kontribusi sebesar 4,12%, dengan nilam menjadi penyumbang komoditas terbanyak, yakni sebesar 54%.
Tingginya nilai ekspor minyak nilam, karena menjadi bahan penting dalam industri parfum, kosmetik, farmasi dan aromaterapi. Selain itu minyak nilam juga berfungsi sebagai zat pengikat.
Dibalik kondisi itu, hal yang menjadi miris ialah luas lahan perkebunan nilam di Indonesia yang mengalami penurunan setiap tahunnya. Dalam 10 tahun terakhir terjadi penurunan luas kebun nilai sebesar 1,52% setiap tahunnya. (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2024).
Potensi Produksi Nilam
Menurut data Direktorat Jendral Perkebunan pada tahun 2020 Provinsi Jawa Barat hanya menyumbang 7,6% dari total produksi nilam di Indonesia. Sebaran Lokasinya pun hanya terbatas di beberapa kabupaten saja.
Dengan prospek pasar minyak atsiri dunia seperti yang telah disebutkan tadi, tentunya hal ini menjadi peluang bagi petani di wilayah Jawa Barat. Mengapa tidak? Karena lahan di Jawa Barat cukup tersedia, disamping kondisinya yang terkenal subur.
Tanaman nilam dapat tumbuh di tanah yang gembur dan mengandung banyak bahan organik. Contoh jenis tanah yang cocok untuk ditanami ialah latosol dan alluvial. (Kementrian Pertanian 2012)
Perlu Inisiator
Kabupaten Sukabumi, tepatnya di Kecamatan Cicurug, saat ini, geliat penanaman nilam mulai terlihat. Meski baru dalam skala terbatas, ‘komoditas wangi’ ini tampak percaya diri bersanding dengan tanaman kumis kucing yang perkembangannya cukup massive.
Kini ada beberapa petani yang sudah mulai mengenal dan tahu manfaat ekonomis dari tanaman nilam. Hanya saja mereka terbertur dengan permodalan pengadaan bibit.
Di sisi lain, sudah ada juga petani yang menginisiasi pengadaan bibit nilam dengan modal uang sendiri. Jika ini berhasil, diharapkan kedepannya dapat menjadi pemasok bibit nilam di daerah tersebut.
Ketika sudah ada contoh berhasil, tentunya akan lebih mudah untuk mengajak petani lain ikut menanam nilam karena memiliki potensi pasar yang besar.
Zaki Luqman


No comment