Penurunan jumlah kunjungan wisata berdampak besar terhadap sumber pendanaan untuk perbaikan dan rehabilitas pada sebuah kawasan hutan wisata mangrove di Indramayu ini.
INDRAMAYU merupakan salah satu wilayah dengan memiliki luas hutan mangrove terbaik dan terbesar di Jawa Barat, yakni hampir mencapai 1900 Ha. Masyrakat sekitar sangat bergantung dengan keberadaan hutan mangrove.

Selain sumber ikan, kepiting dan udang hutan mangrove juga bermanfaat untuk menahan laju abrasi dan banjir rob. Oleh karena itu keberadaan hutan mangrove harus terus dijaga, salah satunya dengan cara pengembangan ekowisata hutan mangrove. Ekowisata mampu mempertahankan kelestarian hutan dan meningkatkan penghasilan dan kepedulian masyarakat.
Mangrove Karangsong
Ekowisata hutan mangrove pantai lestari Karangsong merupakan ekowisata yang berlokasi di utara pesisir Jawa Barat, tepatnya di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu Kabupaten Indramayu. Luasnya mencapai 35 Ha. Sebesar 15 Ha diantaranya dijadikan sebagai destinasi ekowisata oleh Kelompok Pantai Lestari (KPL) Desa Karangsong.
Ekowisata hutan mangrove pantai lestari Karangsong merupakan salah satu hasil kerja dari masyarakat Karangsong dalam upaya pelestarian lingkungan. Dulu lokasi ini pernah mengalami kerusakan akibat adanya abrasi laut yang kemudian mendapatkan dukungan oleh pihak-pihak terkait.

Sekitar 25 tahun lalu, pemerintah dengan mengeluarkan PERDES No 20 Tahun 2009 tentang Daerah Perlindungan Mangrove. Terkait hal itu dilakukan kembali penenaman mangrove sebesar 5000 bibit yang diberikan dari PT Pertamina. Pada tahun 2015 Hutan Mangrove Karangsong diresmikan menjadi kawasan Ekowisata Mangrove Karangsong.
Potensi Wisata
Kawasan ekowisata ini diresmikan pada tahun 2015 oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang kemudian dicanangkan menjadi mangroove center dan pusat riset dan penelitian mangrove di Indonesia Bagian Barat.
Pencanangan itu dikarenakan Kawasan Ekowisata Mangrove Karangsong ini merupakan salah satu ekosistem hutan mangrove yang masuk dalam kondisi baik, dengan memiliki berbagai macam jenis mangrove dan menjadi habitat bagi beberapa satwa.
Tantangan Ekowisata
Namun, setelah melakukan kunjungan dan diskusi bersama Eka, Ketua KPL, ditemukan bahwa kawasan ini harus menjadi perhatian penting. Namun sebagai pengelola, Eka mengungkapkan, bahwa terdapat kendala pada pemeliharaan sarana dan prasarana dalam pengembangan ekowisata.
“Kerusakan yang terjadi belum adanya perbaikan, mengakibatan penurunan jumlah pengunjung yang berdampak besar terhadap sumber pendanaan perbaikan dan rehabilitas kawasan,” jelas Eka.

“Kemudian kami juga menemukan banyak tumpukan sampah yang berasal dari pemukiman warga dan kebawa saat banjir rob terjadi,” tambahnya.
Dikatakannya, bahwa hal itu harus menjadi perhatian bagi pemerintah Indramayu. Pasalnya, dalam kemajuan ekowisata tidak hanya mengandalkan peran volunteer dari masyarakat, tetapi peran pemerintah, swasta dan akademisi juga harus bersinergi dalam melakukan pengembangan Ekowisata Mangrove Karangsong.***
Rozi Agustian S.Hut, M.Si (Mahasiswa Doktoral Prodi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan – IPB)


No comment