Ada metode-metode yang digunakan dalam menjawab teka-teki iklim serta teknik mitigasi dan adaptasinya, dan itu harus telah disepakati/ diakui secara internasional atau nasional. Jadi bukan asal klaim.

CUACA makin susah ditebak. “Biasanya kalau bulan ‘ber-ber’ (September sampai Desember -red) musim hujan, dan di bulan lain panas (kemarau –red),” ucap seorang host saat membuka potcast di sebuah chanel YouTube yang diterbitkan beberapa hari lalu. Adalah Muhammad Ridwan yang menjadi nara sumber dalam potcast tersebut.
Nara sumber yang cukup terkenal sebagai ahli penghitungan karbon serta konsultan pembuatan Draf Rancangan Aksi Mitigasi (DRAM) perubahan iklim itu tidak menampik hal yang dikatakan Roni Wirayuda, host potcast tersebut. Diakuinya bahwa, memang, perubahan iklim seolah memberi teka-teki alam yang sulit dipecahkan. Kapan idealnya petani mulai menanam, nelayan melaut dan sebagainya.
Bukan Asal Klaim
“Menekuni Ilmu terkait perubahan iklim bagaikan belajar ‘ilmu nujum’. Sesuatu yang terkadang menurut kalangan awam tidak terlihat wujudnya, namun terasa dampaknya,” kelakar Ridwan.
“Lalu bagaimana menghitung emisi karbon itu, berapa tonase dan sebagainya?”. Demikian si-host melontarkan pertanyaan.
“Ada rumus dan metode-metodenya,” jelas nara sumber yang juga adalah Direktur PT. Cedar Karyatama Lestarindo (CKL), sebuah perusahaan jasa konsultan pembuatan DRAM, AMDAL dan beberapa aktifitas terkait lingkungan lainnya.
Ditambahkannya bahwa, metode-metode yang digunakan itu harus telah disepakati secara internasional atau nasional.
Kiprah Mitigasi
Soal perubahan iklim, seperti pernyataan yang pernah diungkapkan Barack Obama, Presiden Amerika; “Kita adalah generasi pertama merasakan dampaknya, dan sekaligus generasi terakhir untuk dapat melakukan sesuatu dalam antisipasi dampaknya yang semakin mengancam.”
Maka tak heran jika isu perubahan iklim saat ini telah menjadi perhatian di semua sektor. Ancaman atau dampak yang ditimbulkannya cukup luas dan beragam, baik di sektor pertanian (pangan) maupun kesehatan (wabah penyakit) dan lain-lain. Demikian, seperti dikatakan oleh Ridwan.

Sebagai ilmuwan yang fokus pada isu perubahan iklim serta teknik mitigasi dan adaptasinya, Ridwan sudah cukup dikenal dengan beberapa kiprahnya terkait isu yang makin marak dibahas di seluruh dunia tersebut. Lelaki Minang asal Pasaman – Sumatera Barat itu telah menulis banyak buku terkait iklim, metode penghitungan emisi karbon, serta teknik aksi mitigasinya.
Bersama manajemen PT. CKL yang dipimpinnya, serangkaian pelatihan (training) pun telah digelar terkait carbon accounting dan pembuatan DRAM. Pesertanya telah mencapai angka ribuan orang dari berbagai instansi, baik pemerintah (pusat dan daerah) maupun pihak perusahaan (swasta).
***Riz***


No comment