Kileho: Buah Asam-Manis yang Hampir Terlupakan

Kalau ditanya soal buah lokal Indonesia, mungkin yang langsung terbayang adalah salak, duku, atau manggis. Tapi, pernah dengar tentang Kileho?

NYARIS tinggal kenangan. Demikian ‘nasib’ kileho. Buah mungil satu ini adalah salah satu kekayaan hayati khas hutan Sunda yang makin jarang ditemui.

Jejak Budaya dan Ekologi

Kileho (Saurauia pendula Bl.) tumbuh bergerombol di batang atau dahan pohon besar. Bentuknya bulat kecil mirip anggur hutan, dengan rasa asam-manis yang segar. Karena itu, masyarakat dulu sering menjadikannya camilan alami saat musim berbuah tiba.

Bagi masyarakat adat Sunda, Kileho bukan sekadar buah, tapi juga bagian dari tradisi pangan hutan. Kehadirannya memberi manfaat ganda: jadi sumber pangan manusia sekaligus makanan bagi satwa liar. Sayangnya, generasi muda kini jarang mengenalnya, apalagi mencicipinya.

Mengapa Langka?

Ada dua alasan utama. Yang pertama adalah alih fungsi hutan. Hal ini membuat habitat Kileho berkurang. Yang kedua ialah karena minimnya pemanfaatan menyebabkan buah ini tak lagi dibudidayakan atau dijaga keberadaannya.

Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin Kileho hanya tinggal cerita di masa depan.

Kenali dan Jaga

Buah lokal seperti Kileho adalah identitas dan kekayaan hayati bangsa. Dengan mengenalnya, diharapkan masyarakat, terutama warga Sunda ikut menjaga keberagaman pangan Nusantara.

Bayangkan kalau Kileho bisa diolah jadi produk minuman atau pangan sehat tentu bisa jadi peluang baru sekaligus upaya konservasi.

Ardya

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *