Jamur pelawan merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang tumbuh secara alami di kawasan hutan Kalimantan. Jamur ini hidup bersimbiosis dengan pohon pelawan (Tristaniopsis sp.). Jamur ini tidak dapat dibudidayakan dan kemunculannya sangat bergantung pada kondisi lingkungan.

TANAH Borneo menyimpan berbagai hal yang unik. Jamur Pelawan misalnya.
Bagi masyarakat lokal, di Kalimantan, jamur pelawan telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan tradisional sekaligus sumber penghasilan musiman. Jamur ini biasanya muncul setelah hujan dengan intensitas tertentu dan hanya dapat dipanen dalam waktu singkat.
Kelangkaan dan sifatnya yang musiman membuat jamur pelawan memiliki nilai ekonomi tinggi, namun tetap bergantung pada ketersediaan hutan alami.
Seiring meningkatnya tekanan terhadap hutan Kalimantan, keberadaan jamur pelawan semakin terancam. Deforestasi, alih fungsi lahan, serta perubahan iklim berdampak langsung pada hilangnya pohon inang dan terganggunya keseimbangan ekosistem. Jika hutan terus menyusut, maka jamur pelawan berpotensi menghilang bersama pengetahuan lokal yang selama ini menjaganya.
Indikator Kesehatan Hutan
Jamur pelawan bukan sekadar komoditas pangan, tetapi juga dapat dipandang sebagai indikator kesehatan hutan. Kehadirannya mencerminkan ekosistem yang masih berfungsi dengan baik.

Oleh karena itu, upaya pelestarian jamur pelawan tidak bisa dipisahkan dari perlindungan hutan Kalimantan dan pengakuan terhadap peran masyarakat lokal dalam menjaga ruang hidupnya. Melindungi jamur pelawan berarti menjaga hutan sebagai satu kesatuan ekosistem, bukan hanya sebagai sumber daya yang dieksploitasi.Top of FormBottom of Form
**Tatum Syinta, Fahutan Ank 57**


No comment