Inovasi Sosial dan Ketahanan Komunitas di Tumbang Nusa

Banjir setiap tahun, tapi kami tidak pergi

Oleh: Ramawati*)

LAHAN gambut dan kebakaran bukan merupakan isu baru. Isu ini tidak hanya menjadi permasalahan di tingkat lokal atau nasional, namun juga dunia internasional.. Tidak heran, upaya pencegahan dan penanggulanagan kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu prioritas nasional dan perhatian dunia internasional.

Telah banyak publikasi ilmiah yang membahas tentang dampak kebakaran gambut. Namun, di balik isu nasional dan internasional “gambut dan kebakaran”, banyak masalah lain yang terjadi di lahan gambut yang harus dihadapi terutama oleh masyarakat yang tinggal di lahan gambut namun tidak menjadi fokus perhatian seperti ketika gambut terbakar. Salah satunya adalah gambut yang terdegradasi rentan terhadap banjir.

Gambut yang rusak bersifat hidrofobik atau menolak air, sehingga gambut kehilangan kemampuannya mengikat air secara efektif. Seperti halnya yang terjadi di Desa Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah yang hampir 90% lahannya merupakan gambut dalam yang telah terdegradasi.

Degradasi lahan gambut di Desa Tumbang Nusa diperparah oleh eksploitasi berlapis beberpa dekade yang lalu. Sebelum menjadi bagian dari projek cetak sawah 1 juta hektar tahun 1990an dan gagal, Desa Tumbang Nusa sudah dieksploitasi oleh aktivitas izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Kombinasi pembalakan oleh HPH dan pengeringan lahan gambut melalui pembuatan kanal-kanal besar untuk projek cetak sawah tersebut, mempercepat kerusakan ekositem gambut.

Salah satu dampaknya, kini Desa Tumbang Nusa tidak hanya rentan terhadap kebakaran, tetapi juga rentan terhadap banjir.

Hampir setiap tahun saat musim hujan, mereka menghadapi kenyataan yang sama. Air sungai Kahayan meluap dan menggenangi pemukiman warga dan jalan yang berdampak pada terganggunya aktivitas keseharian mereka.

Karena situasi ini terjadi berulang kali, masyarakat tidak lagi melihat banjir yang terjadi di lingkungan mereka sebagai sebuah bencana luar biasa yang harus dihindari dengan cara mengungsi. Tetapi mereka melihat hal ini sebagai bagian dari siklus alam yang sudah mereka kenali dan terbiasa dihadapi. Sehingga hal ini mendorong lahirnya ide adaptasi lokal yang menarik. Mereka memilih untuk tetap berahan dirumah ketika luapan Sungai Kahayan menggenangi rumah mereka dengan membuat suatu inovasi adaptasi dengan cara menyesuaikan ketinggian lantai rumah ketika terjadi banjir dan merendam rumah mereka. 

Ketika banjir datang dan mulai masuk kedalam rumah, mereka tidak panik. Mereka sudah memiliki system adaptasi yang telah disiapkan jika sewaktu-waktu air sungai meluap dan menggenangi rumah mereka.

Bagian dalam rumah diberi lantai tambahan yang lebih tinggi yang terbuat dari papan kayu yang bisa dipasang secara cepat. Ketika air surut, lantai sementara ini bisa dilepas kembali dan kondisi lantai rumah kembali normal seperti semula.

Study yang dilakukan oleh Hidayati et al, 2022 di Permukiman Bengkuring Samarinda menunjukan bahwa modifikasi interior dengan meninggikan lantai rumah merupakan strategi adaptasi fisik yang dapat meningkatkan ruang aman secara signifikan hingga 47% saat terjadi banjir. Praktik ini lahir dari pengalaman masyarakat lokal dan bukan hanya solusi teknik atas persoalan banjir, tetapi juga cerminan dari ketangguhan dan kemampuan masyarakat dalam mengelola resiko banjir dengan pengetahuan lokal yang mereka kembangkan.

Dengan kondisi ekologis tempat tinggal mereka yang berada di lahan gambut yang telah terdegradasi, mereka menyadari bahwa banjir tidak dapat dicegah sepenuhnya. Mereka juga sadar bahwa, mengungsi setiap kali terjadi banjir bukanlah solusi yang efektif bagi mereka. Selain upaya mitigasi, adaptasi merupakan langkah yang mereka pilih. Mereka memilih hidup berdampingan dengan banjir secara cerdas dengan inovasi sosial yang mereka kembangkan.   

Apa yang dilakukan oleh masyarakat  Desa Tumbang Nusa merupakan contoh nyata inovasi sosial berbasis komunitas. Pengetahuan lokal terkait cuaca, prediksi kapan musim hujan, kapan akan terjadi banjir, sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Ketika menghadapi banjir, masyarakat sudah siap, tidak semata-mata hanya menunggu bantuan dari pemerintah atau dari pihak luar.

Meskipun akses terhadap bantuan darurat terbilang kurang, masyarakat pedesaan bisa membentuk ketahanan dalam komunitas karena hubungan sosial dan interaksi yang erat tantar kerabat dan tetangga (Lev-Wiesel, 2003). Untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi, mereka secara kolektif membangun solusi dengan sumber daya dan pengalaman mereka. Hal ini menunjukan bahwa ketahanan dapat berkembang di dalam komunitas itu sendiri melalui keterikatan nilai-nilai sosial dan kerjasama yang baik.

Hubungan yang erat antar penduduk desa mendorong tingkat ketahanan yang tinggi dalam menghadapi banjir yang sering kali terjadi. Sebuah study oleh Rapaport et al, 2018 menunjukan bahwa komunitas pedesaan yang lebih kecil dan lebih homogen dengan ikatan sosial yang kuatmenunjukan ketahanan komunitas yang lebih tinggi dibanding komunitas perkotaan yang lebih besar dan lebih heterogeny.

Kisah masyarakat Desa Tumbang Nusa, melalui pengalaman mereka menghadapi banjir tahunan akibat degradasi lahan gambut, menunjukkan bahwa inovasi lokal dan solidaritas sosial, dapat memperkuat ketahanan masyarakat. Adaptasi sederhana, seperti meninggikan lantai rumah, menunjukkan kecerdasan kolektif mereka dalam menemukan solusi konkret. Mereka mampu beradaptasi terhadap tantangan alam.

Apa yang dilakukan masyarakat desa tumbang nusa dalam beradaptasi terhadap banjir, patut mendapat perhatian dan dukungan untuk membangun ketahanan masyarakat yang berkelanjutan. Metode ini juga bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang mengalami nasib yang sama dengan Desa Tumbang Nusa, bahwa ditengah perubahan iklim ekstrim, bencana alam tidak dapat dihindari secara total. Sehingga mitigasi bukan merupakan solusi satu-satunya, tetapi perlu menigkatkan kemampuan adaptasi.**

*) Peneliti di Pusat Riset Kependudukan, BRIN

Hidayati Z., Noviana M., and Rosyidi M F. 2022. Interior Modification of Residental Housing in Flood Prone Areas. Journal of Disaster Management. Vol 5(3): 159-180.

Lev-Wiesel R. 2003. Indicators Constituting the Construct of ‘Perceived Community Cohesion’. Community Development Journal. Vol 38(4): 332-343. 10.1093/cdj/38.4.332

Rapaport C., Hornik-Lurie, T., Cohen O., Lahad M., Leykin D., Aharonson-Daniel L. 2018. The Relationship Between Community Type and Cimmunity Resilience. International Journal of Disaster Risk reduction. Vol 31: 470-477.

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *