Ia tak menampik, bahwa usahanya mengalami ‘naik-turun’. Namun lelaki muda itu berpantang surut. Dengan tekun Ia konsisten melanjutkan usahanya.
HAMDANI Rasil tampaknya tidak lagi akan berpindah ke lain profesi. Ia telah berketetapan untuk terus berprofesi sebagai nelayan Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Jatiluhur, Purwakarta – Jawa Barat.

Lelaki yang akrab dipanggil ijar itu merupakan salah satu masyarakat yang bergantung terhadap bisnis perikanan di KJA. Dengan bermodalkan pengetahuan dari ayahnya, Ijar berhasil menjadikan usaha KJA sebagai mata pencaharian utama.
Pengalaman
Kepada GI Ijar menceritakan pengalamannya, bahwa dirinya telah menjalani kegiatan usaha keramba di lokasi tersebut selama 20 tahun lalu. “Awalnya saya ikut ayah dan sekarang sudah memiliki unit sendiri. Alhamdulillah kini saya sudah punya tiga unit dari keringat saya sendiri,” ucap Ijar bangga.
Meski demikian, Ijar pun tak menampik, bahwa usahanya mengalami ‘naik-turun’. Namun lelaki muda itu berpantang surut. Dengan tekun Ijar konsisten melanjutkan usahanya.
“Sekali pemanenan untuk tiga unit tambak itu bisa menghasilkan satu ton hingga lima ton ikan,” tutur Ijar sambil tak lupa terus bersyukur.
Namun permasalahan harga masih menjadi masalah yang berarti bagi nelayan KJA ini menurut Ijar “Naik-turunnya harga masih menjadi masalah untuk nelayan di sini. Pada naiknya itu satu kilo ikan bisa dihargai Rp 12.000,-, sedangkan saat turun satu kilo ikan bisa dihargai Rp 500,-,” jelasnya.
Investasi Besar
Ijar pun dengan ‘terbuka’ membeberkan bahwa usaha KJA butuh biaya awal (investasi) yang lumayan besar.
“Untuk pembuatan satu unit KJA, berdasarkan pengalamannya, diperlukan biaya sekitar 10 sampai 20 juta rupiah. Tergantung dengan bentuk unit nya itu sendiri,” tutur ijar.
Dengan biaya yang cukup tinggi, belum lagi ditambah biaya perawatan ikan dan naik turun nya harga ikan, menjadikan penghasilan nelayan KJA ini sebagai bisnis yang sangat fluktuatif.
Adi Ridho F, Mahasiswa ESL IPB


No comment