Hutan Dramaga, Training CKL, dan Cerita Sepuh

Di sini ada danau Situ Gede dan kandang rusa. Kini, hutan ini terbuka untuk umum dan menjadi tempat penelitian, pendidikan, serta wisata alam (ekowisata).

Ahmadi Raharjo (berkaos putih) bercerita tentang Hutan Dramaga kepada GI

AHMADI Raharjo dari Ponorogo. Dia adalah sesepuh di hutan yang hingga kini lebih dikenal dengan Hutan Cifor. Padahal sebenarnya nama kawasan hutan ini terus berganti.

Ditemui GI saat meliput kegiatan praktek lapangan Training Eksekutif yang digelar oleh PT. Cedar Karyatama Lestarindo (CKL) jelang penghujung Agustus lalu, mantan pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Kehutanan tersebut berkisah panjang lebar tentang kawasan yang kesohor dengan nama ‘Hutan Cifor’ itu.

Lelaki sepuh itu tampak begitu antusias bercerita tentang kawasan hutan yang dulu tempatnya bekerja tersebut. “Saya datang ke sini dan bekerja di tempat ini pada tahun 1972,” ungkapnya.

 “Dulu di sini kita juga giat mengembangkan lebah madu. Tapi mungkin karena berdekatan dengan Bandara Atang Sanjaya, dimana setiap saat helikopter mondar-mandir dan bersuara brisik, maka ternak lebah tidak berkembang,” kisah Atmadi.

Sejarah Singkat

Hutan Dramaga didirikan pada tahun 1956 oleh Balai Penyelidikan Kehutanan sebagai hutan penelitian, dengan luas awal 60 hektar, dan kemudian menjadi lokasi kantor pusat CIFOR.

Hutan ini awalnya berfungsi untuk penelitian dan pengembangan kehutanan, pendidikan, dan kebudayaan. Di sini ada danau Situ Gede dan kandang rusa. Kini, hutan ini terbuka untuk umum dan menjadi tempat penelitian, pendidikan, serta wisata alam (ekowisata).

***Riz***

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *