Rismita Sari*)
GARCINIA atau kerabat manggis-manggisan (Clusiaceae) memiliki keragaman yang sangat tinggi. Kelompok manggis-manggisan memiliki perawakan mulai dari semak (shrub) hingga pohon besar yang dapat mencapai tinggi hingga 25 m.
Ukuran daun berkisar antara kecil hingga besar. Daun terkecil dimiliki oleh Garcinia graminae Kosterm. yang tumbuh di Papua. Ukuran daunnya sangat kecil, yaitu 3-7×0.2.-0.3 cm.
Ukuran daunnya yang kecil tersebut menginspirasi AJGH Kostermans, seorang ahli Botani Indonesia keturunan Belanda, untuk memberikan nama jenis graminae yang berarti rumput karena daunnya yang sangat kecil dan berbentuk panjang seperti daun rumput.
Sedangkan yang berdaun besar ada beberapa jenis, seperti G. daedalanthera Pierre, G. warrenii F.Muell. dan G. nervosa (Miq.)Miq. Di antara ketiga jenis yang berdaun besar ini daun G. nervosa adalah yang berukuran paling besar. Ukuran daunnya berkisar 25-40×12-16 cm. Tulisan ini akan membahas G. nervosa, yang belum banyak dikenal orang. Jenis ini terdapat di Sumatra dan Kalimantan juga di semenanjung Malaya.

Garcinia nervosa berkerabat dengan mundu (G. dulcis (Roxb.)Kurz). Mundu adalah salah satu buah yang dikenal di daerah Jawa, khususnya JawaTengah. Buah mundu yang matang rasanya manis tetapi bergetah kuning sehingga saat dimakan akan meninggalkan bekas berwarna kuning di gigi.
Buah ini cukup popular pada masa dahulu, tetapi kini sudah sangat jarang diperdagangkan karena peminatnya semakin berkurang. Popularitas buah lain yang dibudidayakan secara besar-besaran dan rasanya lebih disukai membuat buah mundu secara perlahan dilupakan orang.
Di sisi lain juga karena adanya buah impor yang ragamnya semakin lama semakin banyak di pasaran yang makin lama semakin menyaingi buah lokal.
Berbeda dengan mundu, buah dari G. nervosa tidaklah dimakan atau dikonsumsi meskipun secara Taksonomi atu Sistematika tumbuhan kedua jenis ini berkerabat. Ciri dari kelompok ini adalah memiliki daun dengan tulang daun menonjol di permukaan bawah, dengan lembar daun yang tebal dan sebagian anggota grup ini memiliki daun yang sangat tebal dan kaku.
Dari daunnya pun sudah dapat dikenal dengan mudah karena sangat berbeda dengan daun jenis Garcinia lainnya. Berbeda dengan manggis, kelompok ini getahnya berwarna putih, sedangkan getah jenis Garcinia umumnya berwarna kuning.
Di Jambi, Sumatra, daun G. nervosa yang tebal dan kaku digunakan sebagai atap pondok atau gubug yang dibangun di ladang. Di sana G. nervosa dikenal dengan nama “benal”. Daunnya yang tebal dan kaku, saat gugur pun dapat bertahan cukup lama sehingga dapat digunakan sebagai atap seperti halnya daun rumbia atau daun kelapa. Menurut penduduk setempat daun benal cukup kuat menahan panas dan hujan.Pohonnya berumah dua atau diesius, artinya pohon jantan dan pohon betina terpisah.
Sebelum berbunga, sulit untuk mengetahui apakah pohon G. nervosa itu jantan atau betina, karena hampir tidak ada bedanya. Setelah berbunga, baru dapat diketahui dengan jelas, apakah pohon itu merupakan pohon jantan atau betina.
Pohon jantan hanya akan menghasilkan bunga jantan dan tidak akan pernah berbuah. Sebaliknya, pohon betina hanya akan menghasilkan bunga betina, yang memiliki bakal buah atau putik. Bunga betina di suku Clusiaceae mampu menghasilkan buah meskipun tanpa pembuahan dari bunga jantan. Inilah kelebihan dari suku Clusiaceae. Sehingga pohon betina yang menghasilkan buah dapat terus bereproduksi meski tanpa adanya pohon jantan. Kondisi ini disebut dengan ”apomiktik”, yaitu kemampuan putik menjadi buah tanpa adanya pembuahan dari serbuk sari bunga jantan.
Bunganya sangat mirip dengan bunga mundu, berkelopak lima dan bermahkota lima. Bunganya putih agak krim dan memiliki aroma yang khas, wangi namun tidak terlalu keras. Bunga jantan maupun betina bergerombol di batang. Setelah mekar bunga jantan akan gugur. Sedangkan bunga betina akan tetap tinggal di cabang hingga buah matang, baru buahnya jatuh ke tanah.
Buahnya cukup besar, berkisar dengan berat berkisar antara 500-1.000 g per buah. Namun sayang, rasa buahnya masam sehingga tidak dikonsumsi oleh manusia maupun hewan. Hanya lalat buah yang biasanya memakan daging buahnya. Induk lalat buah sudah menyimpan telur di buahnya sebelum buah betul-betul matang.
Ketika buah matang, telur tersebut sudah siap untuk menetas, sehingga ketika embrio larva lalat buah keluar dari telurnya, sudah dapat langsung memakan daging buahnya. Oleh karena itu, sering ditemui buah yang baru jatuh pun sudah mengandung larva lalat buah.
Kekayaan Indonesia
Biji G. nervosa berukuran cukup besar dan mudah berkecambah seperti mundu dan kerabat terdekatnya yaitu G. xanthochymus Hook.f. ex T. Anderson. Ketiganya juga memiliki bunga yang mirip. Pohon G. nervosa baru berbunga pada saat usianya mencapai 10-15 tahun. Pada saat berbunga, cabangnya sudah cukup tinggi sehingga sulit mendapatkan foto bunganya.
Di sini ditampilkan foto bunga jantan G. xanthochymus yang sangat mirip agar pembaca dapat mengetahui bentuk bunga G. nervosa. Untuk foto bunga betina, agak sulit diperoleh karena mahkota bunga selalu gugur dan putik tetap tinggal di cabang hinga buah matang.
Meskipun saat ini belum diketahui manfaat G. nervosa secara langsung bagi manusia, namun G. nervosa adalah salah satu kekayaan tumbuhan Indonesia.
Pohonnya yang tinggi dengan daunnya yang besar dapat melindungi tanah dari kerusakan lingkungan termasuk menahan air hujan maupun panas matahari langsung ke tanah.
Dengan adanya G. nervosa di hutan hujan dataran rendah, akan memperkaya jenis-jenis tumbuhan yang bermanfaat bagi lingkungan, memberikan suplai oksigen bagi sekitarnya dan bijinya yang mudah berkecambah memberikan peluang untuk penutupan lahan terbuka.
Pilihan Reklamasi
Musibah bencana longsor dan banjir yang terjadi baru-baru ini di tiga provinsi di Sumatra yaitu Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, memberikan kepiluan yang sangat dalam. Akibat penebangan hutan, lahan yang gundul tidak dapat lagi menahan air hujan sehingga terjadi longsor dan banjir.
Untuk memperbaiki penutupan lahan yang cepat, dibutuhkan jenis-jenis pohon yang ada di lahan tersebut sebelumnya. Akan lebih baik jika ada jenis-jenis pohon yang mudah tumbuh seperti G. nervosa ini, agar reklamasi hutan dapat dilakukan dengan cepat. Dengan demikian bencana alam dapat dihindari.
*)Periset Manggis-manggisan, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)


No comment