Fitria D Raswatie: Antara Sampah & Gaya Praktis Mahasiswa

Menurut seorang Dosen IPB University, Fitria Dewi Raswatie, SP, M.Si, kepraktisan mahasiswa dalam memilih makanan ternyata berdampak timbunan sampah, baik di kampus maupun kos-kosan.

DI BALIK keriuhan kelas dan tugas yang menumpuk, ada cerita lain yang jarang disorot: sampah. Plastik bekas kopi instan, bungkus mi seduh, hingga kantong makanan cepat saji, seolah menjadi catatan kaki yang tak pernah tercatat dalam silabus. Kepraktisan yang semula menjadi penyelamat waktu, justru menumpuk menjadi “warisan” tak kasat mata—tapi nyata terasa.

Mau tidak mau, tampaknya sebagian besar mahasiswa sulit menghindar dari gaya hidup seperti itu. “Mahasiswa sering memilih makanan instan karena praktis dan cepat,” tutur Dosen IPB yang juga pakar di bidang ekonomi dan livelihood rumah tangga, Fitria Dewi Raswatie, SP, M.Si., saat diwawancarai GI beberapa waktu lalu.

Dikatakannya, kondisi tersebut berdampak pada kesehatan dan keindahan lingkungan, terutama di sekitar kampus.

Kepraktisan vs Keberlanjutan

Kondisi jauh dari keluarga, lanjutnya, membuat mahasiswa membentuk pola hidup sendiri. Hal ini bukan hanya memengaruhi cara konsumsi, tetapi juga pengelolaan sampah sehari-hari. “Sering kali mahasiswa tidak punya sistem pengelolaan sampah yang baik di kos, sehingga sampah menumpuk,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menyoroti kontribusi mahasiswa dalam gerakan lingkungan. Meski banyak kampus sudah mengusung konsep green campus dan zero waste, namun implementasinya masih jauh dari optimal. “Kesadaran ada, tapi praktiknya masih lemah. Mahasiswa masih lebih memilih kepraktisan dibanding keberlanjutan,” ujarnya.

Fitria Dewi Raswatie, SP, M.Si (kanan) saat wawancara dengan GI di sela kesebikannya beberapa waktu lalu.

Fitria menegaskan, solusi bukan berarti mengorbankan gaya hidup praktis yang sudah melekat pada mahasiswa. Alternatifnya adalah dengan memilih produk ramah lingkungan, membawa wadah sendiri, hingga mengurangi konsumsi berlebihan.

“Perubahan kecil dari mahasiswa bisa berdampak besar bagi lingkungan jika dilakukan bersama-sama,” ucap Fitria mengakhiri wawancara singkat GI di sela kesibukan kampus.

Chandra Oktavianto, Mahasiswa ESL 59

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *