“Jika kamu belum pernah terdampar pada sebuah lembah yang hijau, itu tandanya kamu belum tahu betapa megahnya bumi yang kau injak”.

BEGITU kata mutiara yang dilontarkan Dr. Dadan Mulyana, seorang ahli ekologi di awal penyampaian materinya pada sebuah training Carbon Accounting dan pembuatan Draf Rancangan Aksi Mitigasi (DRAM) yang digelar PT. Cedar Karyatama Lestarindo (CKL) tadi pagi, Selasa (09/12).
Lebih jauh Dadan mengatakan, bahwa hutan itu dinamis. Untuk perlu kegiatan inventarisasi. “Kegiatan ini adalah sesuatu yang mendasar sebelum menghitung cadangan karbon di suatu lokasi, ” ungkap Dadan.
Ditambahkannya, bahwa data kuantitas serta kualitas pohon (jenis, jumlah, tinggi, diameter) perlu disurvey secara rutin.
Dia menekankan bahwa inventarisasi hutan adalah fondasi utama untuk perencanaan kehutanan dan penghitungan emisi gas rumah kaca (GRK).
Diawali dengan Ekologi
“Karbon di sektor FOLU diawali dengan mengenal hutannya,” ungkap Dadan. Lebih jauh disebutkan bahwa hutan hujan tropis memiliki banyak peran. Diantaranya sebagai rumah bagi flora dan fauna serta wadah pool karbon.
“Pengetahuan biodiversitas penting dalam bisnis karbon,” jelas Dadan. Ditambahkannya, bahwa perhitungan karbon hutan dapat dilakukan dengan memperhatikan berbagai hal. Ada 2 metode yang bisa dilakukan, yakni destruktif dan alometrik.

Tahap pertama yang dilakukan adalah analisis tutupan lahan dan penghitungan data aktivitas oleh ahli GIS. Tahap kedua adalah inventarisasi untuk perhitungan cadangan karbon dari 5 pool karbon.
Utamakan Pelestarian
Dadan pun setuju, bahwa maraknya perbincangan nilai ekonomi karbon (NEK) adalah sebuah isu yang positif untuk disikapi. Namun ahli ekologi tersebut mengingatkan, bahwa di tengah trend tersebut, ada sesuatu yang lebih penting, yakni kelestarian hutan dan lingkungan.
“Utamakan pelestarian dulu, sementara nilai ekonomi (bisnis) nya adalah bonus,” tegas Dadan.
***Riz***


No comment