Mitos mistis, dan pembawa pesan ekologis. Demikianlah julukan yang sering disematkan kepada burung yang satu ini. Dia bisa hidup dan berkembang pada perubahan ekosistem, termasuk di lanskap buatan manusia.
BUT-buutt-but… Suara itu menggema di sela pelepah sawit. Ditimpali kicauan unik nan indah, seperti lengkingan rindu. Nuansa itu bak menghiasi luas dan senyapnya sebuah perkebunan, saat GI berkunjung ke sebuah lokasi perkebunan di Tanah Borneo beberapa waktu lalu.
Suara itu digemakan salah satu burung kalimantan, yaitu burung bubut. Dia bukan burung paling indah, namun dipercaya sangat berperan penting, terutama ekosistem monokultur sawit.

Burung Tangguh
Awalnya, burung bubut adalah penghuni hutan tropis yang lebat. Namun seiring berjalannya waktu, dengan banyaknya ekploitasi hutan alam akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit, burung ini terpaksa harus beradaptasi.
Menariknya, bubut tergolong burung yang cukup tangguh. Ia bisa bertahan hidup di lanskap buatan manusia, termasuk di hamparan sawit yang secara ekologis sangat berbeda dari habitat aslinya.
Memang, perkebunan sawit banyak menyimpan serangga, katak, tikus, dan ular kecil —makanan favorit burung bubut. Dengan memanfaatkan vegetasi di bawah tajuk sawit dan semak pinggir kanal, bubut tetap bisa berburu dan bersarang.
Pengendali Hama Alami
Kehadiran burung bubut di areal sawit sebenarnya memberi manfaat besar. Ia memangsa serangga yang bisa menjadi hama tanaman, serta membantu mengontrol populasi tikus dan ular kecil. Dalam dunia pertanian berkelanjutan, ini disebut sebagai jasa ekosistem — layanan alamiah yang mendukung produktivitas tanpa pestisida kimia.
Namun sayangnya, burung bubut sering tidak dihargai. Ia dianggap biasa, kadang malah dicurigai karena suara tangisannya yang dianggap membawa sial dalam mitos lokal. Padahal, diam tapi pasti, tanpa pamrih, burung ini ikut menjaga keseimbangan ekosistem.
Kearifan di Balik Suara
Di beberapa desa di Kalimantan Tengah, suara bubut dipercaya sebagai pertanda perubahan cuaca atau datangnya “tamu tak terlihat.” Meski mitos itu terdengar mistis, ia menyimpan pesan ekologis: bahwa burung ini peka terhadap perubahan alam dan bisa menjadi indikator kesehatan lingkungan.
Beberapa warga mulai sadar bahwa jika bubut hilang dari kebun, biasanya hama jadi lebih banyak. Maka, muncul inisiatif kecil untuk tidak mengusir atau memburu burung bubut, bahkan membiarkannya bersarang di semak liar yang dibiarkan tumbuh di sela-sela kebun sawit.
Harapan di Perkebunan
Burung bubut mungkin tidak butuh hutan besar untuk sekadar bertahan, tapi ia butuh ruang untuk hidup layak. Semak liar, jalur lalu lintas vegetasi, dan kanal alami bisa menjadi tempat singgah yang penting.

Maka, dalam pengelolaan sawit yang lebih ramah lingkungan, membiarkan alam “bernapas” bukanlah kerugian, melainkan investasi jangka panjang. Bayangkan, jika setiap hektar sawit memiliki penyeimbang alami seperti bubut. Pestisida berkurang, ekosistem lebih stabil, dan manusia serta alam bisa berdampingan.
Di balik suaranya yang terdengar pilu, burung bubut seolah ingin berkata: “Aku hanya ingin tinggal. Tak ingin menguasai. Tapi biarlah aku menjaga, selama kau juga memberi tempat untukku di dunia ini.”…. Mantap..!
(Bakry)


No comment