Botani Mart & Kisah Inspiratif Bimo 

Bimo tak pernah menyangka perjalanan hidupnya akan membawanya dari dunia angka ke dunia tanaman. Kini, ia setia menjaga bibit-bibit muda di Botani Mart membuktikan bahwa mencintai pertanian bisa lahir dari profesi apa saja.

SIAPA sangka, seorang lulusan bidang perbankan kini sehari-harinya justru berkutat dengan bibit tanaman, pupuk, dan media tanam? Dialah Bimo, pegawai Botani Mart, pusat penjualan bibit dan sarana pertanian yang berdiri sejak 2018 di bawah Badan Pengelola Investasi dan Bisnis IPB.

Botani Mart hadir sebagai tempat rujukan bagi masyarakat yang ingin mencari aneka bibit tanaman. “Di sini ada macam-macam bibit. Mulai dari tanaman hias, hortikultura, sayur-sayuran, buah-buahan, sampai pupuk dan media tanam juga tersedia,” jelas Bimo.

Tak heran, konsumen yang datang ke Botani Mart tidak hanya membeli bibit, tetapi juga mencari perlengkapan penunjang bercocok tanam. Rata-rata, setiap hari terjual sekitar 10 hingga 20 bibit. Menariknya, bibit buah-buahan jadi primadona. “Biasanya banyak yang cari limau, alpukat, mangga, sampai durian,” tambahnya.

Lalu, bagaimana menjaga bibit agar tetap segar? Bimo menjelaskan, perawatan yang dilakukan cukup sederhana. “Hanya penyiraman rutin pagi dan sore, terutama saat musim kemarau. Pupuk diberikan sebulan sekali atau dua bulan sekali, jadi bibit tetap sehat.”

Ruang Inspirasi

Bagi masyarakat perkotaan yang ingin menanam pohon tapi terbatas lahan, Bimo punya tips jitu: gunakan planter bag atau biasa dikenal dengan konsep tabulampot (tanaman buah dalam pot). Caranya, gunakan media tanam dari campuran tanah dan pupuk kandang. “Layer pertama pupuk kambing, lapisan tengah tanah, lalu di atasnya pupuk kambing lagi. Jangan lupa, sebelum itu taburkan kapur dolomit agar pH tanah netral,” ujarnya.

Untuk pemeliharaan, cukup berikan pupuk NPK sebulan sekali. Jika tanaman mulai berbunga, barulah ditambahkan pupuk khusus pembuahan.

Kehadiran Botani Mart tidak hanya menjadi tempat jual beli, tetapi juga ruang belajar dan inspirasi bagi masyarakat yang ingin lebih dekat dengan dunia tanaman. Dari cerita Bimo, kita belajar bahwa mencintai tanaman tak melulu butuh latar belakang pertanian—asal ada niat, semua bisa belajar dari awal.

Ardya H Gustawan

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *