Bencana Sumatera: Hujan Ekstrim Biang Keroknya

Jangan menyalahkan deforestasi, tak perlu pula saling tuding soal tambang, apalagi kelapa sawit. Percuma. Musibah Sumatera, menurut seorang profesor kehutanan, memang sudah saatnya terjadi, sebagai bukti dahsyatnya dampak perubahan iklim. Perlu strategi tepat untuk rehabilitasi dan reboisasinya.

RIUHNYA pemberitaan akhir-akhir ini, khususnya terkait musibah hidrometeorologi di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh, menurut Prof. Dr. Chairil Anwar Siregar, Profesor Riset (Peneliti Ahli Utama/PAU) Pusat Riset Ekologi – Badan Riset dan Inivasi Nasional (BRIN) adalah salah-satu bukti ganasnya dampak perubahan iklim.

“Ini sebuah pelajaran jika iklim semakin ekstrim. Kasus di Sumatera menunjukkan, bahwa hujan deras (dengan intensitas tinggi) selama beberapa hari berturut-turut, telah melumerkan lapisan solum di wilayah tersebut. Siapa yang sanggup menahannya?”

Demikian dikatakan oleh Chairil kepada GI saat ditemui di ruang kerjanya, di kawasan Gunung Batu – Bogor, Jumat pagi (12/12/25).

“Ini natural proses. Arahnya adalah meningkatnya ‘energi yang merusak’. Alam ini, walau tidak diapa-apakan tetap saja akan rusak. Contohnya kasus punahnya dinosaurus. Tidak ada campur tangan manusia akan punah juga,” papar Chairil.

“Ingatlah Surat Al-Qariah dalam Quran; bahwasanya alam ini tetap akan hancur juga (kiamat). Tidak ada yang sustainability di dunia ini. Yang kekal itu di akhirat. Deforestasi itu sebuah keniscayaan,” tegasnya. 

Bagai Roti Tawar

Lebih jauh, Profesor itu menjelaskan, bahwa lapisan tanah bagian permukaan bumi (solum) itu bisa diibaratkan seperti selempeng roti tawar. Di bawahnya ada lapisan yang agak keras dan liat (soft bed rock). Lebih ke bawah lagi disebut hard bed rock.

Dikatakannya, bagai selempang roti tawar, lapisan tanah tersebut memiliki sifat fisika porous, dimana air pasti meresap mengisi pori-porinya.

“Nah, jika intensitas hujan berlebihan, dan terus berlangsung secara deras berhari-hari, maka serapan tanah menjadi jenuh. Ibarat sepotong roti, dia akan melumer,” ungkapnya.

Dalam kasus bencana di Sumatera beberapa waktu lalu, sebenarnya, ada atau tidaknya hutan, banjir dan longsor tetap saja terjadi akibat hujan ekstrim saat siklon senyar melanda kawasan itu.

“Apalagi jika lapisan tanah bagian atas (solum) berada pada topografi miring (bukit barisan) dan dibebani hutan dengan tonase tinggi. Maka lapisan jenuh air di atas soft bed rock akan tergelincir dan meluncur ke bawah, ” jelasnya.

“Secara ilmu pengetahuan, hutan tanaman (pinus, eukaliptus dsb) memiliki massa (beban) sekitar 100 ton per hektar. Sementara hutan alam beratnya bisa  300 – 400 ton per hektar. Ada energi potensial di atas lahan. Tanpa hujan dan badai pun beban tanah sudah menjadi ancaman,” tambahnya.

Lebih jauh Chairil menambahkan, sesuai kodrat, air akan mengalir ke posisi rendah. Materi yang terbawa (tanah, potongan kayu dll) hanyut mengisi aliran sungai dan kantong-kantong yang lebih rendah. Lalu ada ketersumbatan di berbagai tempat.

Disaat tertentu, jika terus dibebani debit air yang tinggi, maka secara serentak banjir dan longsor tersebut menyergap perkampungan, desa, hingga wilayah perkotaan. Longsor dan banjir bandang meluluh-lantakkan wilayah.

Seperti Bom Nuklir

Profesor di BRIN itu memberikan pendapat yang melawan mainstreem. Itupun diakuinya.

Hujan ekstrim akibat siklon senyar beberapa waktu lalu adalah penyebab utama musibah hidrometeorlogi di Aceh, Sumut dan Sumbar. Sementara deforestasi (pembabatan hutan), berbagai kegiatan tambang, serta perkebunan kelapa sawit hanya ‘tambahan saja’.

“Jadi buat apa ribut dan saling tuding. Berbagai kegiatan yang disebut sebagai penyebab deforestasi itu iya, ada. Tapi hanya sebagai tambahan terjadinya musibah,” ucap Chairil.

Dirinya membandingkan kasus di Sumatera tempo hari dengan bom Hiroshima dan Nagasaki (Jepang) penghujung perang dunia II lalu. Dijelaskannya, hujan ekstrim sebagai salah-satu dampak perubahan iklim, dahsyatnya setara atau bisa melebihi bom nuklir.

Chairil pun menghitung-hitung. Jika butiran hujan dengan diameter 2 milimeter, meluncur dengan kecepatan 9 meter/detik selama 12 jam tanpa henti, maka energi kinetiknya di permukaan bumi bisa mencapai 50 juta kilo joule/ 1000 hektar. Apalagi jika berlangsung terus-tanpa henti selama 24 jam. “Kekuatannya bisa melebihi bom atom,” tutur Chairil.

“Bayangkan seperti apa dampaknya,” tegas Profesor itu.

Dikatakannya pula, curah hujan mencapai 400 milimeter/ 24 jam, tetap saja, hutan sebaik apa pun akan hancur. “Dan jangan salahkan deforestasi. Jangan salahkan pula kelapa sawit. Beberapa hari sejak kejadian banjir  dan longsor, saya lihat kebun kelapa sawit baik-baik saja. Bahkan ada yang jadi tempat mengungsi beberapa warga,” ungkap Chairil.

Sebaiknya Relokasi

Menurut Chairil, perubahan iklim bisa jadi membuat jarak kejadian (musibah) akan semakin rapat (dekat). Sesuai karakter permukaan bumi (tanah dan topografi) di daerah bencana (Aceh, Sumut, Sumbar) yang seperti itu, maka –menurut pandangan pakar yang satu ini—bisa saja musibah serupa terjadi lagi di kawasan tersebut.

Untuk itu, jawaban terbaiknya adalah relokasi. “Cari, bangun dan pindahkan masyarakat ke lokasi yang aman. Selanjutnya, bagi pemerintah, bikinlah peta rawan bencana yang baik. Setelah itu jalankan dengan benar..!” tegasnya.

Untuk rehabilitasi dan reboisasi (penghutanan kembali) bisa dilakukan dengan pertimbangan dan strategi yang tepat. “Sesuaikan dengan kondisi hamparan tanah di berbagai lokasi. Pilih jenis tumbuhan yang ringan. Dan ingat, tidak semua daerah itu cocok sebagai areal hutan,” tambahnya.

***Riz***

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *