Tidak menempel pada pohon, anggrek ini justru hidup langsung di tanah dan bergantung pada keseimbangan lingkungan sekitarnya. Keberadaannya menjadi penanda penting kesehatan ekosistem hutan.
INILAH anggraek yang tumbuh langsung di permukaan tanah. Tumbuhan ini menjadi bagian dari keluarga besar Orchidaceae.
Berbeda dengan anggrek epifit yang hidup menempel pada batang pohon, anggrek tanah memiliki akar yang masuk ke dalam media tanam. Karakter ini membuat anggrek tanah memiliki peran penting dalam ekosistem darat, terutama di kawasan hutan dan daerah lembap.

Sebaran anggrek tanah cukup luas, terutama di wilayah tropis dan subtropis. Di Indonesia, anggrek tanah dapat ditemukan di hutan, padang rumput, hingga kawasan terbuka dengan kelembapan tinggi dan cahaya matahari yang cukup.
Beberapa jenis anggrek tanah memiliki pseudobulb atau umbi semu yang berfungsi menyimpan air dan nutrisi, sehingga membantu tanaman bertahan ketika kondisi lingkungan kurang mendukung.
Banyak Ragamnya
Jenis anggrek tanah di Indonesia sangat beragam. Beberapa di antaranya adalah anggrek tanah ungu (Spathoglottis plicata), anggrek tanah putih (Spathoglottis gracilis), anggrek tanah kuning (Spathoglottis aurea), anggrek macan tanah (Phaius tankervilleae), anggrek bambu (Arundina graminifolia), anggrek sendok (Peristylus sp.), anggrek tanah hutan (Calanthe sp.), dan anggrek lidah api (Habenaria sp.).
Dari berbagai jenis tersebut, anggrek tanah ungu menjadi yang paling sering dijumpai dan banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias karena mudah tumbuh dan memiliki bunga berwarna mencolok.
Dibandingkan dengan jenis anggrek lainnya, anggrek tanah cenderung membutuhkan intensitas cahaya matahari yang lebih tinggi untuk tumbuh optimal. Hal ini membuatnya cocok ditanam di area terbuka seperti taman atau pekarangan.
Selain nilai estetikanya, anggrek tanah juga memiliki nilai edukatif karena sering digunakan sebagai media pembelajaran untuk mengenalkan keanekaragaman hayati dan pentingnya konservasi tanaman.
Di alam, anggrek tanah berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui interaksi dengan tanah, mikroorganisme, dan serangga penyerbuk.
Ancaman Serius
Namun, keberadaan anggrek tanah, khususnya anggrek hutan, kini menghadapi ancaman serius. Pembukaan hutan, alih fungsi lahan, serta pengambilan anggrek liar secara ilegal menyebabkan banyak jenis anggrek kehilangan habitat alaminya.
Anggrek hutan memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi lingkungan tertentu, seperti kelembapan, struktur tanah, dan keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Ketika habitatnya rusak, anggrek sulit bertahan dan beradaptasi. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya anggrek hutan yang terancam punah, tetapi juga keseimbangan ekosistem hutan yang bergantung pada keberadaan flora dan fauna di dalamnya.

Pelestarian anggrek tanah perlu menjadi perhatian bersama. Perlindungan habitat alami, budidaya yang bertanggung jawab, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan anggrek tanah di Indonesia. Dengan melestarikan anggrek tanah, kita turut menjaga kekayaan hayati dan keberlangsungan ekosistem hutan.
**Aldo, Mhs Gunadarma**


No comment