Skema pengelolaan kebun kopi berketahanan iklim berbasis masyarakat bisa menjadi salah-satu solusi dalam menghadapi perubahan iklim.
‘SINYAL kuning’ bagi penikmat kopi. Perubahan iklim kian menjadi ancaman nyata. Kopi arabika yang biasanya tumbuh di ketinggian 1.000–2.000 mdpl dan robusta di 400–800 mdpl mulai terganggu karena suhu yang tak lagi stabil.

Salah satu dampaknya adalah merebaknya hama penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei) yang bisa menurunkan produksi secara drastis. Lalu apa solusinya?
Agroforestry Berbasis Masyarakat.
Di Desa Kekuyang, Kelompok Tani Hutan Mumuger telah memadukan kopi dengan pohon penaung, sehingga menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk dan stabil. Penelitian Pramulya et al. (2024) menunjukkan agroforestry kopi Desa Kekuyang mampu menyimpan karbon hingga 72,31 Mg C/ha yang dapat membantu menyerap CO₂ dari udara, menahan lonjakan suhu, sekaligus menekan penyebaran hama.
Kuncinya, menurut penelitian itu, KTH harus memilih pohon penaung yang bermanfaat ganda: menjaga ekosistem sekaligus menambah pendapatan petani.

Durian, alpukat, duku, dan lamtoro adalah contoh pohon yang bisa melindungi kopi sambil menghasilkan nilai ekonomi. Dengan cara ini, petani bisa terus memproduksi kopi berkualitas tinggi sambil beradaptasi dengan tantangan perubahan iklim.
(Ardya)


No comment