Tidak ada tanya dan wawancara. Tanpa nara sumber. Kecuali ‘lukisan alam’ di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting (TNGP) – Kalimantan Tengah, yang menggugah hati seorang anggota tim survey PT. Cedar Karyatama Lestarindo (CKL). Lalu bertutur dalam artikel ini.
Memang, ‘satu foto bak seribu kata’, apalagi lukisan alam. Beberapa hari lalu GI minta dikirimi tulisan via WhatsApp –sekelumit kecil laporan perjalanan tersebut. Lalu tersajilah artikel liputan pandangan mata dan rasa ini.

“SORE itu, di Sungai Sekonyer, TNTP, saya belajar bahwa kekaguman tidak selalu lahir dari hal yang rumit. Tapi justru datang dari momen sederhana yang diberikan Tuhan dengan cara yang luar biasa.
Secondary Bow
Perahu kayu melaju perlahan menyusuri alur sungai yang tenang. Di kanan-kiri, hutan tropis berdiri rapat, seolah menjadi penjaga setia habitat orang utan dan bekantan yang sesekali menampakkan diri di dahan-dahan tinggi. Langit petang mulai meredup, warna jingga senja perlahan menyatu dengan biru kelabu. Tak ada yang istimewa pada awalnya hingga hujan turun.
Hujan itu singkat, hampir seperti sapaan. Padahal, wilayah ini telah lama tidak merasakan tetes air dari langit. Seolah alam sedang menahan rindu, dan ketika hujan akhirnya jatuh, ia datang membawa hadiah yang tak ternilai: sebuah pelangi yang sangat indah, bahkan amat jarang ditemui.
Di hadapan saya, terbentang pelangi jenis secondary bow –pelangi ganda yang muncul dengan lengkungan lebih samar namun megah, seakan menjadi bayangan lembut dari pelangi utama. Warnanya berlapis, terbalik susunannya, dan berdiri anggun di atas Sungai Sekonyer yang memantulkan cahaya senja. Pemandangan itu membuat waktu seolah berhenti.’
‘Sebagai seorang pemuda, saya kerap disibukkan oleh rencana, target, dan kegelisahan akan masa depan. Namun di hadapan pelangi itu, semua terasa kecil.
Ada rasa kagum yang sulit dijelaskan, rasa syukur yang tiba-tiba penuh, dan kesadaran bahwa alam selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan manusia akan kebesaran Sang Pencipta.
Pelangi itu bukan sekadar fenomena optik. Ia adalah tanda. Tanda bahwa setelah kering yang panjang, akan selalu ada keindahan yang datang. Tanda bahwa Tuhan tidak pernah berhenti menunjukkan kuasa-Nya, bahkan di sudut hutan Kalimantan yang sunyi, di atas sungai yang mengalir tenang, di hadapan seorang pemuda yang sedang belajar memahami hidup.

Ketika senja benar-benar jatuh dan pelangi perlahan menghilang, yang tersisa bukan kekecewaan melainkan kehangatan. Sebuah keyakinan bahwa saya baru saja menyaksikan salah satu karya Tuhan yang paling jujur: indah, langka, dan hadir tanpa diminta.
Dan sore itu, Sungai Sekonyer tidak hanya membawa perahu kami pulang, tetapi juga membawa pulang hati saya yang penuh kekaguman.’
**Ardya H. Gustawan**


No comment