Oleh: Devi Nisa Hidayati1,2 dan Latifa Nuraini3
Beberapa jenis lamun digunakan untuk mengatasi luka, penyakit kulit, bisul, nyeri otot, gangguan pencernaan, hingga peradangan.
LAMUN dikenal sebagai bagian dari ekosistem laut yang mendukung kehidupan ikan dan biota lainnya. Padang lamun berfungsi sebagai tempat ketersediaan makan, berlindung, sekaligus habitat regenerasi bagi banyak organisme laut.
Namun di balik perannya menjaga keseimbangan pesisir, tumbuhan laut berbunga ini ternyata menyimpan potensi lain yang mulai dilirik dunia farmasi. Lamun tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga memiliki nilai kesehatan yang belum banyak dikenal masyarakat luas.

Berbeda dengan rumput laut, lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup di perairan dangkal, memiliki akar, batang, serta daun sejati. Keunikan struktur inilah yang membuat lamun menghasilkan beragam senyawa metabolit sekunder. Dalam dunia farmasi, enyawa-senyawa ini dikenal sebagai titik awal penting dalam pengembangan obat dan bahan aktif alami.
Dari Tradisional ke Uji Laboratorium
Sejumlah kajian ilmiah menyebutkan, bahwa lamun telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di beberapa wilayah pesisir dunia. Beberapa jenis lamun digunakan untuk mengatasi luka, penyakit kulit, bisul, nyeri otot, gangguan pencernaan, hingga peradangan. Praktik tersebut menjadi bukti awal bahwa lamun memiliki khasiat biologis yang dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir sejak lama.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, peneliti kemudian melakukan berbagai studi lanjut untuk memperkuat pengetahuan tradisional tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamun mengandung beragam senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenolik, alkaloid, dan tanin.
Kelompok senyawa tersebut di atas memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi, yang sangat penting dalam pengembangan obat, khususnya untuk penyakit infeksi dan peradangan.
Menariknya, beberapa spesies lamun bahkan dilaporkan memiliki aktivitas melawan bakteri pathogen, termasuk mikroorganisme yang mulai resisten terhadap antibiotik tertentu. Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan obat berbasis bahan alam laut, terutama di tengah meningkatnya masalah resistensi antibiotik di dunia kesehatan.
Kandidat Nutrasetikal
Selain sebagai sumber senyawa obat, lamun juga memiliki potensi sebagai bahan nutrasetikal, yaitu produk yang berada di antara pangan dan obat. Kandungan antioksidan alaminya berpotensi untuk menjaga kesehatan kulit, mempercepat penyembuhan luka, serta mendukung sistem imun tubuh. Hal inilah yang menjadikan lamun mulai dipertimbangkan sebagai bahan baku alami untuk produk kesehatan dan perawatan tubuh.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan hamparan padang lamun yang luas. Dari perairan dangkal pesisir hingga pulau-pulau kecil, lamun tumbuh berdampingan dengan terumbu karang dan mangrove, sehingga membentuk segitiga ekosistem pesisir yang penting.
Sayangnya, keberadaan lamun masih sering diabaikan karena habitatnya di bawah permukaan air. Padahal kekayaan hayati ini menyimpan peluang besar bagi riset kesehatan, industri farmasi, sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat pesisir jika dikelola secara berkelanjutan.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Dimasa depan, pengembangan lamun tidak hanya bergantung pada laboratorium, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat setempat.
Edukasi tentang pentingnya lamun, praktik pemanfaatan biodiversitas tanpa merusak, serta kolaborasi antara pemerintah, peneliti atau universitas, serta warga pesisir menjadi kunci. Dengan pendekatan ini, lamun dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan alam tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistemnya.
Sayangnya, potensi besar lamun di bidang farmasi masih belum banyak dikenal masyarakat luas.
Selama ini lamun kerap dipandang sebelah mata, bahkan kerap rusak akibat aktivitas manusia di wilayah pesisir. Padahal, kerusakan padang lamun bukan hanya berdampak pada ekosistem laut, tetapi juga hilangnya peluang besar pengembangan sumber obat alami dari laut.
Bagi dunia kesehatan, lamun mempresentasikan potensi besar sumberdaya hayati laut yang masih perlu dieksplorasi. Pengenalan lamun kepada masyarakat tidak hanya berkaitan dengan upaya konservasinya, namun bisa menjadi langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman tentang peran laut dalam kesehatan manusia.
Melalui riset multidisipliner yang berkelanjutan, pengelolaan berbasis ekosistem, serta sinergi berbagai pihak terkait, lamun berpeluang dikembangkan sebagai sumber bahan baku obat alami dimasa depan, sekaligus memberikan manfaat ekologis dan sosial berkelanjutan.**
1Mahasiswa Program Doktor Universitas Gadjah Mada, 2Dosen Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim, 3Badan Riset dan Inovasi Nasional


No comment