Ular Pelangi: Kilau Warna di Tanah yang Lembap

Sekilas terlihat seperti cahaya yang memantul di permukaan minyak. Tubuhnya gelap, namun ketika terkena sinar, muncul kilau warna pelangi yang memesona. Inilah ular pelangi (Xenopeltis unicolor), salah satu ular paling indah di Indonesia yang justru sering luput dari perhatian.

MESKI tampilannya mencolok, ular pelangi adalah satwa yang pemalu dan jarang terlihat. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di balik tanah, bergerak sunyi di lingkungan yang lembap.

GI dan juga CEDAR TV menemukan ular ini di Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu.

Kilaunya Unik

Nama “ular pelangi” berasal dari efek iridesensi pada sisiknya. Struktur mikroskopis sisik ular ini memantulkan cahaya sehingga menghasilkan warna-warna seperti pelangi. Menariknya, warna ini bukan pigmen, melainkan hasil pembiasan cahaya.

Fenomena ini juga ditemukan pada sayap kupu-kupu dan bulu burung tertentu. Secara fisik, ular pelangi memiliki tubuh silindris, kepala tumpul, dan ekor pendek. Bentuk ini sangat cocok untuk gaya hidupnya sebagai ular penggali (fosorial).

Hidup di Bawah Permukaan

Ular pelangi menyukai habitat lembap seperti hutan dataran rendah, kebun, sawah, hingga pekarangan yang masih alami. Mereka aktif terutama pada malam hari, terutama setelah hujan ketika tanah menjadi gembur.

Makanan utamanya adalah katak, kadal kecil, dan hewan tanah lainnya. Dengan peran tersebut, ular pelangi membantu menjaga keseimbangan populasi satwa kecil di ekosistem. Meski terlihat “eksotis”, ular ini tidak berbisa dan tidak agresif. Saat merasa terancam, ia lebih memilih bersembunyi atau menggali tanah daripada menyerang.

Indikator Sehatnya Lingkungan

Keberadaan ular pelangi sering menjadi tanda, bahwa suatu lingkungan masih memiliki kualitas tanah dan kelembapan yang baik. Tanah yang tercemar, kering, atau terlalu sering terganggu oleh aktivitas manusia akan sulit menjadi habitat bagi ular ini.

Sayangnya, justru karena hidup dekat dengan tanah dan area manusia, ular pelangi rentan terhadap alih fungsi lahan, pemadatan tanah, serta penggunaan pestisida dan bahan kimia.

**Tatum, Fahutan Ank 57**

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *