Limbah hasil samping tambang nikel terus menjadi sorotan dalam pengelolaan lingkungan. Slag nikel matte, Meski bukan tergolong limbah B3, slag nkel matte yang dihasilkan memerlukan pendekatan pengelolaan yang berkelanjutan, terutama untuk menjaga kualitas air di sekitar tambang.
AKTIVITAS pertambangan menghasilkan berbagai jenis limbah yang perlu dikelola secara berkelanjutan. Salah satu yang menjadi perhatian Muhammad Dzaky Ghifari, Mahasiswa Sekolah Vokasi Program Studi Teknik dan Manajemen Lingkungan Angkatan 59 dalam penelitian skripsinya adalah slag nikel matte.

Limbah hasil samping pertambangan nikel ini timbulannya mencapai ratusan ribu ton per bulan. Meski dikategorikan sebagai limbah Non B3, volumenya yang besar menjadikannya isu penting dalam pengelolaan lingkungan.
Menurut Dzaky, penelitiannya berfokus pada pemurnian silika dari slag nikel matte dan pemanfaatannya sebagai material adsorben untuk menurunkan kadar kromium heksavalen (Cr⁶⁺) pada air limbah tambang. “Cr⁶⁺ merupakan logam berat yang berpotensi membahayakan lingkungan dan kesehatan apabila tidak ditangani dengan baik,” ucap Dzaky saat diwawancarai GI belum lama ini.
Tambang Berkelanjutan
Lebih jauh Dzaky mengatakan, selain menyoroti potensi pemanfaatan limbah, dirinya juga mengamati pengelolaan air limpasan tambang di lokasi penelitian. Air limpasan dikelola secara berlapis melalui puluhan kolam pengendapan sebelum dialirkan ke danau. Meski berada dekat dengan area pertambangan, kondisi air danau teramati tetap jernih.
Dia menilai, sistem tersebut berperan dalam menjaga kualitas badan air di sekitar area tambang, meskipun aktivitas pertambangan berlangsung dalam jarak yang relatif dekat.
Dikatakannya, bahwa dalam pelaksanaannya, penelitian ini menghadapi tantangan teknis, terutama pada proses penarikan silika yang membutuhkan peralatan khusus. Meski demikian, narasumber menilai temuan awal penelitian ini cukup menjanjikan dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut.
Ke depan, narasumber berharap hasil penelitian ini dapat menjadi referensi awal bagi pengembangan pengelolaan limbah dan kualitas air tambang yang lebih berkelanjutan. “Tidak hanya di satu lokasi tambang, tetapi juga di sektor pertambangan secara lebih luas,” ucap Dzaky.
**Tatum Syinta, Fahutan Ank 57**


No comment