Kepada peserta training eksekutif CKL dikatakannya, bahwa upaya mitigasi karbon bukan sekadar tentang teknologi, tetapi juga menyangkut efisiensi, keberlanjutan, dan keterlibatan semua pihak.

AKSI mitigasi sektor energi dan limbah di Indonesia mendesak untuk dikebut. Mengapa?
Karena kalau dibiarkan, atau salah penanganan, konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di republik ini akan semakin parah.
Seperti dipaparkan Rohmadi Ridlo, ahli karbon energi dan limbah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), saat ini konsentrasi gas rumah kaca di Indonesia mencapai 440 PPM akibat aktivitas manusia. Angka ini sedikit dibawah target maksimum 450 PPM.
Lebih jauh dijelaskan Rohmadi, pada tahun 2019, tercatat emisi sebesar 1,3 juta ton CO₂e. Diperkirakan angka tersebut meningkat menjadi 2,6 juta ton pada 2030 jika tidak dilakukan intervensi.
Hal tersebut dikatakannya dalam kesempatan sebagai pemateri pada kegiatan Training Eksekutif Aksi Mitigasi Karbon yang digelar oleh PT. Cedar Karyatama Lestarindo (CKL) di Bogor, 29 Agustus 2025.
Rohmadi adalah salah-satu penyusun metodologi di Sistem Registri Nasional (SRN), yang membagikan pengetahuan mendalam mengenai tantangan dan peluang pengurangan emisi di Indonesia.
Strategi Mitigasi
Lebih jauh disampaikannya, di sektor energi, strategi mitigasi meliputi peningkatan efisiensi energi, pengembangan energi terbarukan, pembangunan pembangkit energi bersih, serta penggunaan bahan bakar rendah karbon.
Sementara itu, di sektor limbah, peluang pengurangan emisi muncul dari berbagai inisiatif, antara lain: melalui pemanfaatan gas metana (Landfill Gas/LFG) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta komposisasi sampah, dengan catatan memperhatikan kandungan bahan berbahaya (B3).
Disamping itu, menurut Rohmadi, perlu diterapkan teknologi PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) dan RDF (Refuse Derived Fuel), meski masih terkendala biaya tinggi. Dan yang tak kalah pentingnya lagi ialah pengelolaan limbah cair, seperti biodigester, pemanfaatan biogas domestik, hingga industri kelapa sawit, tapioka, dan pulp & paper.
Perlu Peran Parapihak
“Berbagai teknologi energi terbarukan seperti biogas, biomassa, bio-CNG, dan bio-methane juga menjadi bagian dari solusi. Bahkan, sudah ada beberapa perusahaan sawit yang mulai menerapkan skema bioenergi ini,” ungkap Rohmadi.

Kepada peserta training eksekutif CKL dikatakannya, bahwa upaya mitigasi karbon bukan sekadar tentang teknologi, tetapi juga menyangkut efisiensi, keberlanjutan, dan keterlibatan semua pihak.
“Dengan semakin banyak pihak yang memahami strategi ini, diharapkan target penurunan emisi Indonesia dapat tercapai, sekaligus membuka jalan menuju masa depan energi yang lebih bersih,” tutur Rohmadi.
Ardya Hwardaya Gustawan


No comment