Goodie Bag: Solusi atau Masalah Baru?

Konsep reduce harus diiringi konsep reuse. Konsumen dapat menerapkan kebiasaan membawa dan memanfaatkan goodie bag secara berulang.

KEBIJAKAN pergeseran plastik menjadi tas kain atau goodie bag sudah marak dilakukan. Mulai dari minimarket hingga pusat perbelanjaan ternama sudah menerapkan kebijakan tersebut. Tujuan utamanya ialah pengurangan sampah plastik. Berhasilkah? Atau justru bisa menjadi masalah baru?

MenurutAkademisi ESL–IPB, Fitria Dewi Raswatie, SP, M.Si, fenomena ini menunjukkan adanya ‘pergeseran masalah’.

“Apabila tidak dimanfaatkan secara berulang, maka beban pengelolaan sampah bukannya berkurang, malah semakin besar,” ungkapnya. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam kesempatan wawancara dengan GI beberapa waktu lalu.

Lebih jauh Fitria mengatakan, bahwa kondisi aktual saat ini menunjukkan jika kebijakan tersebut tidak sepenuhnya efektif. Goodie bag bahkan tak jarang menjadi ‘sampah baru’.

Mengapa? Karena konsumen cenderung membeli goodie bag setiap kali berbelanja. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan tumpukan ‘sampah baru’.

Penggunaan material sintetis yang sulit terurai pada goodie bag, turut memperparah dampaknya terhadap lingkungan. Apabila tidak digunakan secara berulang, maka akan menjadi timbunan sintetis.

Budaya Konsumtif

Tidak hanya berdampak bagi lingkungan. Penumpukan goodie bag juga dapat menjadi masalah sosial dan ekonomi. Budaya konsumtif secara tidak langsung terbentuk karena konsumen terbiasa membeli goodie bag setiap berbelanja. Goodie bag juga kerap menjadi simbolisasi sebuah acara. Akibatnya, muncul pandangan bahwa goodie bag merupakan hal yang harus disediakan oleh penyelenggara acara.

Dari perspektif ekonomi, semakin tinggi penggunaan goodie bag, maka akan meningkatkan biaya produksi dan distribusi. Apabila konsumen tidak memanfaatkan goodie bag secara berulang, maka biaya tersebut akan menjadi mubazir. Sehingga, manfaat yang diterima tidak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.

Konsep Keberlanjutan

“Langkah konkrit yang dapat menjadi jawaban untuk fenomena tersebut adalah mengedepankan konsep keberlanjutan,” ungkap Fitria.

Lebih jauh dijelaskannya, konsep reduce diimplementasikan dengan mengurangi produksi goodie bag berlebih. Selain itu, perlu didukung dengan penerapan konsep reuse. Konsumen dapat menerapkan kebiasaan membawa dan memanfaatkan goodie bag secara berulang.

“Sebagai akademisi, kontribusi peran dapat dilakukan melalui penelitian, edukasi kritis, serta integrasi isu lingkungan dalam pembelajaran. Harapannya, mahasiswa menjadi lebih sadar dalam menentukan pola konsumsi dan perilaku sehari-hari”, ujar Fitria.

(Audy, Mahasiswa ESL IPB)

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *