Gen-Z Jangan Cuek, Ancaman Iklim Sungguh Mengerikan

Wawancara eksklusif bersama Resta Destyana, Duta IPB Batch 8 sekaligus pendiri komunitas JadiTau yang aktif menggerakkan generasi muda

GENERASI Z (Gen-Z), yang lahir di tengah perkembangan teknologi digital, sering disebut sebagai generasi yang paling adaptif sekaligus paling kritis terhadap isu sosial. Tapi ketika berbicara soal krisis iklim isu global yang dampaknya semakin terasa, pertanyaan pentingnya adalah: apakah Gen-Z sudah benar-benar sadar?

Dalam sebuah wawancara bersama Resta Destiyana, Duta IPB Batch 8, terungkap beberapa hal menarik tentang bagaimana Gen-Z memandang perubahan iklim dan apa peran mereka dalam menghadapi tantangan besar ini.

Lebih Percaya Teman Sebaya

Menurut Resta, Gen-Z punya karakter unik dalam cara mereka belajar dan memahami isu. Mereka cenderung lebih mudah menerima informasi dari teman sebaya dibandingkan dari guru atau dosen. Artinya, pendekatan peer-to-peer learning atau belajar antar teman sebaya jauh lebih efektif ketimbang metode konvensional.

Jadi, kampanye iklim yang digerakkan oleh sesama anak muda akan lebih cepat nyampe dibandingkan seminar formal.

Kesadaran Perubahan Iklim

Menurut Resta, perlu sedini mungkin adanya kesadaran akan terjadinya perubahan iklim, termasuk di kalangan Gen Z. “Faktor yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah keluarga, terutama orang tua. Jika orang tua membiasakan anak untuk peduli lingkungan sejak dini, maka kesadaran itu akan terbawa hingga dewasa,” ungkap Resta.

Lebih jauh Duta IPB tersebut mengingatkan, bahwa media sosial punya peran besar dalam mencerdaskan anak muda. Tidak dapat dipungkiri, tambahnya, bahwa Gen-Z tumbuh dengan dunia digital, sehingga informasi yang mereka dapatkan dari media sosial jauh lebih cepat dicerna.

“Media sosial sangat membantu menyebarkan informasi soal krisis iklim” ujar Resta. Namun, tantangannya adalah memastikan informasi yang tersebar benar-benar akurat, bukan hoaks.

Resta (kiri) bersama Ardya (GI) saat wawancara beberapa waktu lalu

Bicara kesadaran tidak lengkap tanpa aksi nyata. Resta menyebutkan beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan anak muda, seperti: tidak membuang sampah sembarangan, mengganti kantong plastik dengan totebag atau selalu membawa botol minum sendiri atau tumbler. “Aksi kecil ini mungkin terlihat sepele, tapi jika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang, dampaknya akan sangat besar,” tuturnya.

Mati Secara Perlahan

Lalu apa yang terjadi jika Gen-Z abai pada krisis iklim? Menurutnya, dampaknya fatal.

“Generasi ini bisa merasakan ‘mati secara perlahan’. Krisis iklim bukan ancaman abstrak, ia hadir dalam bentuk banjir, kekeringan, udara kotor, gagal panen, hingga krisis pangan. Jika tidak ada kesadaran, maka masa depan yang sehat dan layak bisa hilang dari genggaman Gen-Z itu sendiri,” jelas Resta.

Ditambahkannya bahwa Gen-Z punya potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Karakter mereka yang cepat beradaptasi, dekat dengan teknologi, dan lebih percaya pada sesama teman bisa jadi senjata ampuh melawan krisis iklim. Tinggal satu pertanyaannya: Gen-Z, sudah siap bergerak atau masih cuek?

Ardya Hwardaya Gustawan

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *