Jakarta: Ekonomi dan Emisi pun Bersatu

Di balik gedung megah, Jakarta tenggelam dalam selimut karbon tebal

PENGAP dan panas. Demikian kata yang pas untuk Jakarta. Sebagai jantung perekonomian, gemerlap  lampu serta gedung pencakar langit, serta riuh kendaraan yang memadati jalanan, Jakarta menyimpan tantangan besar yaitu emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang kian meningkat.

Data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melalui Inventarisasi GRK 2022 menunjukkan, bahwa emisi langsung DKI Jakarta pada 2021 sebesar 27,54 juta ton CO2e. Emisi langsung ini terdiri dari sektor transportasi (46 persen), pembangkit listrik (31 persen), industri manufaktur (8 persen), rumah tangga (6 persen), dan limbah padat (5 persen).

Belum lagi terdapat emisi tidak langsung yang berasal dari penggunaan listrik sebesar 29,29 juta ton CO2e. Sehingga total emisi dari Ibukota Jakarta adalah 56,83 juta ton CO2e/tahun. Apabila menurut FREL 2022 cadangan karbon hutan primer lahan kering sebesar 773 ton CO2e, maka Emisi ini yang efeknya setara dengan “menghilangkan” 73 ribu hektar hutan primer hanya dalam satu tahun.

Wajah Modernisasi?

Sebenarnya, pemerintah Jakarta telah melakukan sejumlah upaya yang positif untuk menekan emisi, seperti memperluas jaringan transportasi publik seperti MRT, LRT, dan TransJakarta, serta mulai mengoperasikan bus listrik untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan berbahan bakar fosil.

Foto; Dok pribadi

Pemerintah juga memperbanyak ruang terbuka hijau melalui penanaman pohon di taman kota dan jalur hijau. Selain itu, kebijakan pembatasan kendaraan seperti ganjil-genap dan pengembangan kawasan Transit-Oriented Development turut mendukung pergeseran masyarakat ke moda transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Akan tetapi, emisi Jakarta tetap tinggi. Penyebabnya adalah beberapa faktor penghambat. Jumlah kendaraan pribadi terus meningkat setiap tahun, sementara kapasitas transportasi publik belum sepenuhnya mampu menampung peralihan pengguna dalam skala besar.

Selain itu, sumber emisi tidak hanya berasal dari transportasi, tapi juga dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di sekitar Jabodetabek, aktivitas industri, dan konstruksi yang pesat. Ruang terbuka hijau masih jauh di bawah target ideal, sehingga kemampuan kota untuk menyerap polutan dan karbon terbatas.

Kualitas lingkungan Jakarta adalah cerminan dari wajah modernisasi yang belum sepenuhnya ramah lingkungan. Menurunkan emisi bukan hanya untuk mengejar target lingkungan semata, tetapi sebuah investasi dan warisan untuk generasi yang akan datang.

Beginikah wajah modernisasi..?*

(Rehan)

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *