Dalam wawancara ekslusif GI, Guru Besar Fahutan IPB University, Prof. Dr.Ir. Hardjanto, MS, menyampaikan sebuah ‘pesan dari Hutan’; Bahwa petani tak bisa sendiri dalam hal terkait penyelamatan iklim.

HUTAN Rakyat memang milik rakyat, bukan milik negara. Biasanya luasaannya kecil-kecil dan menyebar. Namun, meski kecil, hutan ini bisa menjadi ‘senjata rahasia’ Indonesia dalam melawan krisis iklim.
“Kalau dilihat dari fungsinya, ya sama persis dengan hutan lainnya, bisa menyerap karbon, penyumbang oksigen, dan membuat bumi menjadi senyum,” ujar seorang dosen purnatugas ahli pengelolaan hutan rakyat, Prof. Dr. Ir. Hardjanto, MS.
Beliau menceritakan pengalamannya ketika bersua dengan petani hutan rakyat di berbagai wilayah. Diceritakannya, bahwa setiap petani punya selera masing-masing dalam mengelola hutan. “Ada yang rajin menanam pohon, rajin jual hasil panen, dan ada juga yang duduk manis menikmatik cantiknya hutan sepanjang hari,” tutur profesor tersebut saat diwawancarai GI via zoom beberapa waktu lalu.
Ekonomi vs Ekologi
“Banyak yang berpikir kalau petani mau untung, hutan pasti rusak. Padahal tidak selalu begitu. Tidak semua yang ngejar cuan itu tukang merusak alam,” ungkap Hardjanto.

Ditambahkannya, bahwa petani itu rentan. Mereka perlu dukungan. Dukungan dari siapapun itu. Entah itu pemerintah, mitra perusahaan, dan orang yang dermawan lainnya yang sayang lingkungan.
“Bantuan yang dimaksud diantaranya bisa berupa subsidi bibit, pupuk, akses pasar, dan kebijakan harga yang adil. Kalau petani tenang secara ekonomi, mereka juga bisa lebih sayang dengan dengan lingkungan. Bayangkan, petani disuruh jaga hutan tapi sulit untuk mencari uang makan. Gimana mau fokus?” jelasnya.
Probolinggo Punya Cerita
Di Probolinggo, ada cerita manis soal kemitraan petani hutan rakyat dan perusahaan. Mereka membuat kesepakatan bersama untuk mengelola hutan secara lestari.
Hasilnya? Petani dan mitra bisa lebih makmur karena hasil kerjasamanya. Hasil yang didapatkan itu merupakan hasil dari saling mendukung, saling menjaga, dan saling percaya. Tidak ada yang dirugikan. “Semua happy,” kisah Guru Besar Fahutan IPB University tersebut.
Penelitian Prasetia (2018) bersama Prof. Hardjanto menjelaskan tentang pola kemitraan pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Probolinggo. Dijelaskan bahwa, pengaruh dari beberapa lembaga sangat memengaruhi keberlanjutan pengelolaan hutan.
Keberlanjutan tersebut berpotensi untuk menjaga keberlangsungan hidup petani, mitra perusahaan, bahkan pemerintah juga. Karena dampak dari pengelolaan hutan rakyat sangat besar bagi masyarakat yang berada di lingkungan hutan.
Masalah Besar: Uang & Pendidikan
Duit seringkali menjadi alasan mengapa mereka tidak mau merawat hutan dengan baik. Tapi tetap saja petani itu kalau tidak ke hutan, darimana dapat duitnya? Solusinya adalah carikan mereka senjata.

“Zaman dahulu ada namanya program kredit tunda tebang, menurut saya itu efektif untuk petani berkomitmen menjaga pohon di hutan. Lalu berikanlah kebijakan berupa sistem penjualan komoditas yang jelas, agar petani kecil terbantu untuk menghidupi kehidupannya,” ungkap Hadjanto
“Banyak petani hutan cuma lulusan SD atau SMP. Mereka butuh bantuan buat ngerti cara kelola hutan yang tahan lama. Pemerintah harus turun tangan: kasih penyuluhan, pendidikan, insentif. Petani itu lemah. Tapi kalau dibantu, mereka bisa jadi pahlawan iklim kita,” jelas Hardjanto di akhir wawancara.
(Resta)


No comment