CKL: Menatap Emisi Limbah & Energi

Proyek pengurangan emisi sektor limbah semakin intensif, PT CKL adakan in-house training

SABTU, 19 Juli 2025, PT Cedar Karyatama Lestarindo (PT CKL) mengadakan in-house training mengenai penyusunan Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi (DRAM) Sektor Limbah. Training yang diadakan di Ruang Meeting Sadewa 5 itu dihadiri oleh sembilan orang dari tim internal PT CKL. Mereka terdiri dari tim teknis tenaga ahli dan asisten tenaga ahli.

Materi disampaikan oleh Rohmadi Ridlo, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Tim Penyusun Metode Pengurangan Emisi Sektor Limbah dan Energi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Potensi Besar

Rohmadi Ridlo menyampaikan, telah banyak metode pengurangan emisi dari sektor limbah dan energi yang telah tersedia dan diakui KLHK. “Tantangannya adalah ketersediaan proyeknya,” tuturnya.

Ia menambahkan, ada juga proyek yang tengah berlangsung namun belum dihitung nilai pengurangan emisinya. Ini menjadi kesempatan besar bagi pemrakarsa untuk ikut andil dalam pemenuhan target nasional, dan ikut ke dalam kegiatan nilai ekonomi karbon (NEK).

Rohmadi pun memberi beberapa contoh proyek terkait yang akan berjalan dan sudah berjalan namun belum didaftarkan ke Sistem Registri Nasional (SRN). Diantaranya seperti proyek-proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS), refuse derived fuel (RDF), dan pemurnian biogas.

Untuk proyek pada sektor limbah, Ia menambahkan, bahwa ada potensi dari proyek pengolahan limbah cair kelapa sawit (POME), limbah cair pengolahan tapioka, dan pulp & kertas. Ia menyampaikan agar mendorong kolega pada industri terkait untuk segera menghitung potensi penurunan emisi dari industri terkait.

Pada contoh kasus, narasumber mengulas terkait praktik penghitungan pada metode MSLI-009 tentang Pengolahan Limbah POME dengan Metode Methane capture (penangkap metan). Dikatakannya, bahwa metana (CH4) memiliki tingkat emisi lebih tinggi 25 kali dibanding karbondioksida (CO2). Sementara itu, limbah POME ini akan terus dihasilkan selama proses pemanenan dan pengolahan kelapa sawit berjalan.

Emisi Metana

Rohmadi lalu membahas terkait kondisi baseline dan kondisi aksi mitigasinya. Dikatakannya, bahwa konidisi baseline adalah kondisi awal sebelum dilakukan proyek aksi mitigasi.

Baseline proyek ini adalah kolam IPAL limbah POME yang terbuka, sehingga proses alami pada IPAL tersebut akan mengemisikan metana ke atmosfer. Pada kondisi aksi mitigasi, proses alami teremisinya metana akan ditangkap dalam sebuah digester, baik yang berupa proyektor maupun berbentuk cover,” ucap Rohmadi.

Lebih jauh dijelaskannya, bahwa  metana akan terpeangkap dalam cover tersebut dan diubah menjadi biogas. Biogas yang dihasilkan dimanfaatakan untuk pembangkit listrik atau energi penggerak boiler.

Pada kasus ini, data utama yang perlu disediakan oleh pemrakarsa adalah data-data volume limbah POME yang dihasilkan, kadar chemical oxygen demand (COD) sebelum diolah, serta data COD setelah diolah. Dari kedua tipe data COD tersebut bisa dilihat efektifitas methane capture ini dalam menekan kadar COD pada POME.

Sebagai penutup, ia menambahkan bahwa akan lebih baik jika industri kelapa sawit khususnya yang telah membangun methane capture untuk mengklaim pengurangan emisinya. Selain itu, training semacam akan bagus dilakukan untuk menyasar manajemen atau bagian sustainability perusahaan kelapa sawit dan indsutri lain yang terkait agar arah keputusan perusahaan mengarah ke isu nilai ekonomi karbon dan pemenuhan target nasional.

(Aslam)

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *