Ilmu Amali & Amal Ilmi, Untuk Hiu & Pari Lestari

Dalam upaya konservasi hiu dan pari, Telah dibangun kolaborasi multi-pihak yang melibatkan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University, Mobula Project Indonesia, dan Universitas Ronggalawe.

KONSERVASI hiu dan pari merupakan salah satu tantangan strategis dalam pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia, terutama di wilayah pesisir utara Jawa Timur (Kabupaten Tuban dan Lamongan). Wilayah ini dikenal sebagai salah satu hotspot pendaratan elasmobranch.

Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, telah dibangun kolaborasi multi-pihak yang melibatkan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University, Mobula Project Indonesia, dan Universitas Ronggalawe. Kolaborasi ini menjadi dasar pelaksanaan riset yang dirancang untuk menghasilkan data ilmiah yang sohih serta mendorong pengambilan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Hasil inventarisasi awal menunjukkan bahwa terdapat sedikitnya lebih dari 30 spesies hiu dan pari yang tercatat di wilayah perairan ini. Spesies-spesies tersebut diantaranya dari famili seperti Rhynchobatidae, Glaucostegidae, dan Sphyrnidae yang sudah diklasifikasikan dalam kategori Critically Endangered (sangat terancam punah) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Keberadaan spesies-spesies tersebut menunjukkan pentingnya nilai konservasi sekaligus menegaskan urgensi perlindungan yang bersifat sistemik dan adaptif.

SES dalam Konservasi

Pendekatan konservasi yang diadopsi berfokus pada sistem sosial-ekologis (Social-ecological System; SES) yang mengintegrasikan berbagai aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.

Menurut Egin – Direktur Mobula Project Indonesia, Transfer Knowledge dan riset tentang perikanan hiu dan pari sangat penting untuk dilakukan yang diharapkan dapat menciptakan kesadaran serta solusi berkelanjutan. Pernyataan ini menegaskan bahwa pengetahuan tidak cukup jika tidak dibagikan dan diterapkan dalam konteks bagian dari Tri Dharma Perguruan tinggi, yaitu pengabdian.

Dalam hal ini, Ijay – sebagai Research Fellow PKSPL IPB juga menekankan pentingnya hubungan antara ilmu amali (praktik berbasis ilmu) dan amal ilmi (Ilmu sebagai landasan praktik). “Ilmu Amali dan Amal Ilmi merupakan hal utama dalam berkhidmah dan terjun langsung di masyarakat,” ungkapnya.

Dijelaskannya bahwa prinsip itu menjadi dasar pendekatan SES-konservasi yang menempatkan keterkaitan dan keterikatan manusia terhadap ekosistem sebagai satu kesatuan yang saling mendukung (Coupled Human and Natural Systems).

Lebih jauh Ijay menjelaskan, bahwa strategi konservasi yang dikembangkan dalam penelitian ini dirancang secara partisipatif dan berlandaskan pada tiga pilar utama.

Pertama, dilaksanakan studi yang mendalam mengenai karakteristik  bio-ekologi sumberdaya hiu dan pari, serta aspek sosial masyarakat pesisir sebagai basis data awal (baseline), yang menjadi pondasi penting dalam merumuskan intervensi.

Kedua, dilakukan analisis terhadap economic value dari spesies elasmobranch. Kendati demikian dilakukan untuk memahami nilai sumber daya sekaligus trial dalam menguji potensi pendekatan pay-to-release yang tentu perlu disesuaikan dengan faktor-faktor pendorong (driving forces).

Ketiga, tahap uji intervensi, dilakukan dengan implementasi pendekatan berbasis randomized controlled trial (RCT) guna mengukur dampak program konservasi secara terukur dan berbasis bukti (evidence-based).

Teknis & Transformatif

Rangkaian kegiatan konservasi ini didesain sebagai proses riset jangka panjang yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga transformatif. Tim peneliti aktif melakukan upaya yang bersifat edukatif di tingkat lokal, seperti nelayan dan pemilik kapal (Users).

Disisi lain, juga diberikan pelatihan kepada beberapa mahasiswa Universitas Ronggalawe sebagai mitra akademik. Pelibatan generasi muda desa dalam kegiatan riset ini juga dilakukan dengan tujuan menciptakan agen perubahan di tingkat tapak yang memiliki kapasitas, pemahaman ekologis, dan tanggung jawab sosial.

Antika dan Dendy, sebagai bagian dari Tim Project Fisheries, mengutarakan bahwa riset ini memberikan pemahaman mendalam, bahwa upaya konservasi bukan hanya sekadar menjaga laut, tetapi juga mencakup hubungan yang erat dengan masyarakat di sekitarnya.

Kolaborasi riset antara PKSPL IPB, Mobula Project Indonesia, dan Universitas Ronggalawe tersebut diharapkan menjadi contoh penerapan ilmu pengetahuan ke dalam aksi nyata.

Konservasi hiu dan pari tidak hanya dalam aspek biologis, tetapi juga bentuk dari tanggung jawab sosial dalam menjaga keberlanjutan sumberdaya. Pendekatan berbasis riset dan pemberdayaan komunitas membuktikan bahwa ilmu amali dan amal ilmi memang harus berjalan beriringan. Dalam konteks ini, menuju sumberdaya atau ekosistem yang lestari dan berdampak positif bagi masyarakat pesisir. **

(A. Nurhijayat)

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *