Pangan Lokal: Antara Budaya, Ketahanan Pangan & Ekosistem

Program pelatihan permakultur yang dilakukan oleh IDEP Foundation di Kapuas Hulu, berhasil menginspirasi petani untuk mengembangkan praktik agroekologi. Produktif, tetapi juga menjaga siklus alam dan memperkuat kemandirian pangan.

PANGAN lokal, identitas budaya, ketahanan pangan, serta masalah lingkungan sekitar, mengemuka dalam dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (13/06).
Diskusi yang digelar oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial atau Humanis itu dimoderatori oleh Direktur Eksekutif Roemah Inspirit, Budhita Kismadi.


Diskusi tersebut menghadirkan beberapa narasumber seperti Inisiator Nusantara Food Biodiversity – Ahmad Arif, Co-Founder Nusa Gastronomy – Chef Ragil Imam Wibowo, Finalis Masterchef Indonesia – Laode Saiful Rahman, Public Relations & Fundraising Officer IDEP Foundation – Rodearni Purba, dan Peneliti Semesta Sintang Lestari – Esty Yuniar.

Sangat Beragam
“Bicara ketahanan pangan seringkali bersifat makro, padahal kebutuhan pangan sangat beragam. Melalui pendekatan yang dilakukan oleh IDEP, kita bisa melihat bagaimana ketahanan pangan dapat ditingkatkan ke level keluarga dan komunitas,” ujar seorang Nara sumber, Rodearni.
Ditambahkannya, bahwa program pelatihan permakultur, seperti yang dilakukan oleh IDEP Foundation di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, berhasil menginspirasi petani untuk mengembangkan praktik agroekologi yang tidak hanya produktif, tetapi juga menjaga siklus alam dan memperkuat kemandirian pangan keluarga.
IDEP Foundation, sebagai organisasi yang bergerak dalam pengembangan sistem pertanian berkelanjutan berbasis permakultur di Indonesia, telah menjalankan berbagai pelatihan dan pendampingan bagi petani lokal agar mampu mengelola lahannya secara regeneratif dan mandiri.
Rodearni menambahkan bahwa program pelatihan permakultur menawarkan opsi alternatif untuk mengelola lahan yang ada. “Bahkan, pekarangan rumah yang sebelumnya adalah lahan kosong dapat dimanfaatkan untuk produksi pangan yang difokuskan pada konsumsi keluarga,” tambahnya. Riset IDEP Foundation menemukan ada banyak potensi pangan lokal khas yang hanya ada di Kapuas Hulu. “Masyarakat belum menggunakan pangan yang ada karena hanya tahu mengolahnya untuk satu jenis [makanan] tertentu. IDEP menginisiasi pelatihan mengolah pangan lokal agar memiliki nilai tambah,” kata Rodearni.

Bangga Pangan Lokal
Gerakan Nusantara Food Biodiversity, kata Arif, terus mengajak orang muda sebagai konsumen pangan lokal untuk mendokumentasikan identitas pangan dan budayanya terkait cara mengolah, menyajikan, serta mengetahui cerita di baliknya. “Perlu menanamkan rasa kebanggaan mereka pada pangan lokal yang dimiliki daerahnya. Sejauh ini, lebih dari 500 data pangan daerah dari Aceh hingga Papua berhasil terdokumentasi dan semua orang bisa bergabung sebagai kontributor,” kata Arif. Dalam diskusi tersebut juga membahas berbagai inovasi untuk melestarikan keragaman pangan dan budaya di Indonesia. Pangan lokal dikemas secara populer agar dapat menarik minat konsumsi masyarakat. Inovasi tersebut disampaikan oleh Chef Ragil yang menyajikan kuliner nusantara dengan konsep modern, yaitu melibatkan seni dan pemaknaan dari makanan.
“Banyak sekali daerah-daerah dengan resep lokal yang belum diketahui oleh publik, termasuk dari komunitas adat dan petani kecil yang sangat menarik untuk terus dieksplorasi. Resep tersebut kami kembangkan dengan tetap menghormati nilai-nilai budaya dan kearifan lokalnya,” tutur Chef Ragil.

***Riz***

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *