Di Kalimantan Tengah, sungai bukan sekedar aliran air, melainkan urat nadi kehidupan. Dari pagi hingga senja, klotok dan ces setia membelah arus, menghubungkan desa, pasar, dan kebuh di sepanjang tepian.

TOK-klotok tok… Awalnya bergerak pelan dan berat, menggores permukaan air, lalu melaju lumayan agak kencang juga. Diatasnya ada nenek-nenek hingga Balita, sayur hingga koper. Kendaraan air itu bernama ‘klotok’.
Ada lagi jenis sarana transportasi air lainnya yang bernama ‘Ces’. Keduanya adalah alat transportasi andalan di Borneo, terutama di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Memang, di Kalimantan Tengah, sungai bukan hanya bentang alam, melainkan jalur kehidupan masyarakat. Kondisi geografis yang didominasi perairan serta keterbatasan akses transportasi darat di sejumlah wilayah membuat sungai menjadi sarana mobilitas utama. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat mengandalkan dua jenis perahu bermesin; klotok dan ces.
Klotok merupakan perahu sungai tradisional berbahan kayu dengan ukuran sedang hingga besar yang digerakkan oleh mesin diesel. Seperti disebutkan di awal tadi, nama “klotok” berasal dari bunyi khas mesin yang terdengar “klotok-klotok-klotok” saat melaju di atas air.
Perahu ini memiliki kapasitas angkut yang cukup besar sehingga digunakan untuk membawa penumpang, barang kebutuhan pokok, hingga sepeda motor. Selain berfungsi sebagai transportasi harian, klotok juga dimanfaatkan untuk kegiatan wisata susur sungai.
Moda ini kerap dijumpai di pasar terapung maupun kawasan taman nasional, dan menjadi pilihan wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menikmati keindahan alam serta kehidupan masyarakat di tepian sungai Kalimantan.
Tuntutan Alam
Berbeda dengan klotok, ces memiliki ukuran lebih kecil dan bentuk yang ramping. Perahu ini digerakkan oleh mesin tempel, yang umumnya menggunakan mesin alkon yang telah dimodifikasi. Karakter ces yang ringan dan gesit membuatnya cocok digunakan untuk perjalanan jarak dekat hingga menengah.
Masyarakat memanfaatkannya untuk bepergian ke kebun, sekolah, atau antar desa. Keunggulan utama ces terletak pada kemampuannya melintasi perairan dangkal dan jalur sungai yang sempit, termasuk anak-anak sungai yang tidak dapat dijangkau oleh klotok.
Di berbagai wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Katingan, klotok dan ces masih menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat. Mengingat sebagian warga tinggal di tepian sungai dan menghadapi keterbatasan akses jalan darat, perahu-perahu ini menjadi solusi utama mobilitas.

Kehadiran klotok dan ces menunjukkan bagaimana masyarakat Kalimantan Tengah beradaptasi dengan lingkungan sungainya. Di tengah perkembangan zaman, kedua moda transportasi ini tetap bertahan sebagai tulang punggung mobilitas dan penggerak aktivitas ekonomi di wilayah perairan.
**Sunday Sinambela**


No comment