Pasar Terapung Lok Baintan bukan hanya sekedar tempat transaksi antara penjual dan pembeli. Juga bukan hanya sekedar nilai uang yang beredar. Banyak yang menyebut Pasar Terapung sebagai tradisi, budaya dan seni masyarakat. Tidak keliru sih, tapi masih banyak yang belum terungkap tentang cerita inspiratif dibaliknya. Siapakah sesungguhnya wanita-wanita tangguh yang berjualan di atas jukung mengapung di atas air tersebut ?

Lihatlah senyum wanita pedagang di atas jukung (sampan – perahu kayu). Tidak pernah lepas senyum dari bibir mereka ketika melihat calon pembeli. Wajah cerah dan suara jelas. Ada kesan wanita-wanita di atas jukung sebagai orang yang optimis. Tidak tergambar wajah kelelahan, mengeluh atau takut menghadapi hidup. Di atas air mereka berjibaku dengan semangat untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ya, wanita tangguh di atas jukung Pasar Terapung layak disebut sebagai pejuang. Mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Keyakinan mereka sangat kuat. “Rezeki sudah diatur oleh Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya perlu berusaha,” begitu kira-kira ucapan optimis dari pedagang di atas jukung.

Menjemput Bola

Dalam manajemen pemasaran modern, kita diajarkan bahwa pada era persaingan pasar yang semakin ketat maka pihak yang menang adalah pihak yang mampu mendekati konsumen. Lihatlah, betapa dalam dunia marketing modern konsumen dimanjakan dengan pasar online seperti ojek online baik mobil atau motor. Itu semua berarti bahwa produsen atau penyedia jasa mendekati konsumen. Penyedia jasa berlomba-lomba mendekati konsumen sehinga konsumen merasa dimudahkan dan dihargai. Itulah salah satu kiat jitu marketing modern, jemput bola – manjakan konsumen.

Hei….. jangan salah ! Ternyata teori ini sudah beratus tahun dipraktekkan oleh wanita-wanita tangguh pada Pasar Terapung, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Setiap pada konsumen yang baru nongol dalam sebuah klotok (perahu ukuran sedang), maka tanpa diundang wanita tangguh akan mengayuh sampan mendekati. Meraka akan menghampiri, memberi senyuman, menawarkan barang, menyebutkan kelebihan barangnya dan bahkan jika perlu memberi contoh untuk dimakan oleh pembeli. Bukankah itu semua bagian dari manajemen modern ? Jemput bola, jelaskan kelebihan produk atau jasa, beri senyuman dan beri contoh produk ? Hei….. dimana wanita-wanita tangguh tersebut belajar teori pemasaran ?

Alam dan waktu sudah mengajarkan mereka bahwa pemasarn terbaik adalah mendekati konsumen. Buat konsumen merasa dihargai. Sampaikan kelebihan produk dan jika perlu jelaskan asal-muasal produk dengan bahasa sederhana, waktu yang singkat dan beri senyuman terbaik. Bukan hanya itu, jika perlu sampaikan dengan Bahasa pantun. Hal inilah yang sudah, sedang dan akan terus dilakukan pedagang di atas jukung tersebut.

Buah Endemik Kalimantan Selatan

Kesan pertama saya begitu sampai di Pasar Terapung Lok Baintan, Sungai Tabuk, Banjar, begitu membekas. Entah mereka tahu atau kebetulan, hal yang pertama ditawarkan pada saya adalah buah mundar. Ya, buah mundar atau ada juga yang menyebutnya bundar. Kedengaran asing di telingan. Dan memang ini buah langka, asli  dan endemik Kalimantan Selatan.

Inilah pertama kali saya melihat dan mendengar nama buah mundar. Buah mundar atau dalam Bahasa Latin disebut Garcinia forbesii, termasuk ke dalam kerabat buah manggis  Tentu saja sebagai orang yang belajar tentang kehutanan dan lingkungan langsung tertarik dengan buah mundar. Bukan hanya ditawarkan, pedagang berusia diatas 40 tahun tersebut langsung membuka satu buah mundar untuk saya coba. Ini tekhnik dagang yang hebat. Konsumen langsung disuguhkan sesuatu yang baru dilihat dan ditawari untuk mencicipi.

Buah mundar berwarna merah. Isinya satu biji. Daging buahnya berwarna putih. Rasanya seperti manggis manis tapi sekaligus ada rasa asam segar. Nah…. Bingungkan ? Kombinasi manis dan asam segar. Tapi begitulah perasaan saya pertama kali mencoba buah mundar.

Selain buah mundar, saya juga ditawari buah kasturi. Buah ini dalam Bahasa Latin dikenal dengan nama Mangifera casturi. Mangga Kasturi merupakan endemik atau buah khas dari Kalimantan Selatan. Strategi menawarkan produk khas Kalimantan Selatan tentu saja sebuah pendekatan jitu dari pedagang Pasar Terapung.

Mangga Kasturi ini selain rasanya yang manis segar, ternyata bagi masyarakat setempat memiliki cara yang unik dalam mengupasnya. Cara khusus mengupas mangga Kasturi berupa dengan cara mengiris kulit bagian bawah mangga, melengkung melingkar sampai ke bagian tampuk dan selanjutnya kulit mangga ditarik dengan tangan. Maka, sim salabim, buah mangga akan terkelupas dan siap disantap. Cara mengupas buah mangga Kasturi ini akan kita jumpai langsung diperagakan oleh wanita Tangguh di atas jukung Pasar Terapung. Ternyata bukan hanya buahnya yang endemik tapi sampai cara mengupasnya juga unik. Sangat beruntung jika bisa berkunjung langsung ke Pasar Terapung.

Sensasi Mengayuh Jukung

Mungkin satu dari 100 orang dewasa di Indonesia pernah mengayuh sampan. Tapi mengayuh jukung yang berisi barang dagangan, diantara puluhan jukung lainnya, seperti akan bertabrakan sesama jukung tentu sebuah sensasi tersendiri. Mengayuh jukung di Pasar Terapung memiliki seni tersendiri. Apabila terlalu kuat bisa bertabrakan. Terlalu lambat, bisa-bisa jukung tidak bergerak. Inilah seni seni mengayuh jukung.

Tentu bukan hanya mengayuh jukung sensasi itu begitu indah untuk dikenang. Tapi suasana mengayuh jukung diantara puluhan pedagang wanita-wanita Tangguh, begitu istimewa terasa. Ya, umumnya pedagang di Pasar Terapung adalah perempuan berusian diatas 40 tahun. Hampir semua jenis kebutuhan rumah tangga ada di pasar terapung. Apabila ingin makan pagi spesial, pergilah ke Pasar Terapung. Atau sekedar mencicipi buah-buah segar endemik Kalimantan Selatan juga bisa diperoleh di Pasar Terapung.

Ada sensasi berbeda menikmati makanan atau buah-buahan di atas jukung dibanding menikmatinya pada tempat lain. Jukung yang terombang ambing. Bersenggolan dengan jukung lain. Sambil menikmati makanan kita akan dihampiri wanita tangguh pedagang di atas jukung. Kita juga bisa mmeinta wanita di atas jukung untuk menyampaikan pantun – pantun istimewa.

Pasar Terapung Menurunkan Emisi

Hanya segelintir orang yang bisa mengaitkan Pasar Terapung dengan Pembangunan Rendah Emisi. Kok bisa ? Menurut Dr. Muhammad Ardiansyah, Sekretaris Centre for Climate Risk and Opportunity Management in Southeast Asia Pacific (CCROMSEAP) IPB menyatakan bahwa “Pasar Terapaung merupakan salah satu pasar yang rendah emisi. Lihatlah alat transportasi yang digunakan terbuat dari kayu dan dikayuh oleh wanita di atas jukung. Tanpa mesin dan tanpa bahan bakar fosil”.

Lebih lanjut Ardinasyah menjelaskan, “Pasar Terapung bisa dijadikan salah satu model pasar dengan konsep pembangunan rendah emisi. Pedagang dan pembeli sama-sama bertransaksi di atas jukung yang dikayuh dengan tenag manusia. Sarana jalan yang digunakan adalah air mengalir yang juga tidak berasal dari jalan beraspal atau semen. Semua ini merupakan kearifan lokal tapi dalam konteks keilmuan bisa kita sebut sebagai bentuk pasar rendah emisi.”

Isu yang dilemparkan oleh Ardiansyah yang juga dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini perlu dijadikan sebuah diskusi ilmiah. Bisa jadi konsep Pasar Terapung justeru bisa dijadikan contoh pasar modern yang rendah emisi. Bukankah setiap negara di dunia, termasuk Indonesia sudah merencanakan pembangunan rendah emisi ? “Ini perlu dikaji lebih jauh. BIsa jadi Pasar Terapung model yang cukup baik dalam menurunkan emisi pada level tertentu, minimal untuk Kalimantan Selatan”, pungkas Ardiansyah yang ditemui di Pasar Terapung Lok Baintan.

Wanita Tangguh di Atas Jukung

Seperti judul di atas, sebutan ini pantas kita berikan untuk wanita-wanita pedagang di atas jukung. Lihatlah faktanya. Waktu berdagang di Pasar Terapung antara pukul 06.00 sampai pukul 10.00 pagi. Apa artinya ini ? Waktu pagi ini memberikan informasi bahwa setiap pagi mereka harus bangun sebelum jam 4 pagi. Barang dagangan harus dimsukkan ke dalam jukung dari rumah, ini dilakukan sekitar jam 04.00 – 05.00. Selanjutnya barang-barang harus disusun supaya terlihat lebih menarik. Ini dilakukan jam 05.00 – 05.30 pagi. Tidak tentu sih tergantung jenis barang dan jarak.

Bagi wanita yang rumahnya berjarak satu sampai dua kilo meter dari Lok Baintan, mereka harus berangkat jam 5 pagi dari rumah. Apa alat transportasinya ? Tentu saja jukung berisi barang dagangan. Sepagi itukah mereka harus keluar rumah ?

Ya.

Dinginkah ?

Ya.

Takutkah mereka jika sesuatu muncul dari Sungai Martapura ?

Tidak !

Mereka sudah terbiasa dengan udara dingin. Terbiasa bangun pagi menyiapkan barang dagangan. Sudah terbiasa dengan sungai yang di dalamnya entah makhluk apa saja yang menghuninya. Mereka tidak takut. Mereka semangat. Dan mereka adalah tulang punggung keluarga. Mencari nafkah halal untuk keluarga. “Mengayuh jukung menghadirkan rasa bangga pada mereka bahwa hidup ini begitu berharga untuk keluarga. Untuk itu setiap saat harus semangat”. Begitulah kata-kata pelecut semangat mereka setiap hari.

Pulang dari Pasar Terapung, wanita Tangguh ini membantu suami di kebun, sawah atau jualan di rumah, sampai sore. Malam hari mereka menemani anak belajar dan menemani suami. Jadi waktu istirahat wanita di atas jukung ini sangat sedikit. Belum lagi mereka harus membeli barang dagang.

Wanita di atss jukung, kuat semangatnya, kuat fisiknya dan ramah pada pembeli. Belum sampai ke Kalimantan Selatan jika belum menikmati sensasi mengayuh jukung dan menikmati suasana Pasar Terapung di tengah-tengah Wanita Tangguh yang selalu senyum.

***MRi***