Saat musim angin, kawasan Puncak Dua bak berada di sisi bandar udara atau bagai perkampungan pinggir pantai. Gemuruh angin menyatu dengan riuhnya suara baling-baling tradisional Sunda; kolecer.

 Wuurr…wurrr…., dan desa yang biasanya senyap berubah riuh. Semarak oleh puluhan baling-baling bambu atau kayu. Orang-orang yang menyaksikan pun tampak riang. Suasana di tengah musim badai itu mewarnai indahnya kawasan Puncak Dua belakangan ini.

Kawasan Batulawang (Desa pertama Cianjur di jalur Puncak Dua Bopunjur) tiba-tiba ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah. Mereka adalah penggila kolecer yang rela menginap di lokasi (camping) selama berhari-hari di jalur lintasan angin demi mendapatkan putaran gesit baling-baling tradisional berukuran besar tersebut.

Memang, kawasan Puncak Dua, khususnya Desa Batulawang merupakan spot angin yang nyaris tak putus betiup di kala musimnya tiba, yakni setiap penghujung tahun. Kondisi iklim tersebut bahkan tak jarang menimbulkan bencana bagi warga, terutama petani sayuran. Di sejumlah lokasi tampak tanaman bawang daun rebah tak beraturan. Beberapa atap rumah pun ada yang rusak disapu badai.

Namun bagi petani hal itu adalah biasa. Sebagian petani malah menikmati dengan ikut serta berbondong-bondong ke lokasi spot angin untuk mendirikan kolecer yang telah tersimpan lama di rumah mereka.

Potensi Wisata

GI dengan kolecer, siap menuju spot angin terkencang

Baling-baling kayu (kolecer) adalah tradisi masyarakat Sunda, terutama di daerah-daerah langganan angin kencang, seperti di kawasan Puncak Dua Jalur Bogor-Cianjur (Bopunjur). Situasi ini –jika dikemas dengan baik– boleh jadi merupakan  salah-satu obyek wisata desa yang cukup menarik setiap penghujung tahun.

Seperti diketahui, setiap Nopember – Desember kawasan Puncak Dua diterpa angin kencang. Tiupan angin barat itu bahkan nyaris tiada henti selama 24 jam.

***Riz***