Budaya bangsa agraris masih terasa di desa ini.  Jika pasar kondusif dan harga bersahabat,  tradisi gotong-royong dan syukuran pun digelar warga, baik saat tanam dan panen. Inilah potret petani Sukawangi saat panen jahe …

Makan bersama sebelum panen jahe. Tradisi dan syukuran

Suatu pagi di Kampung Arca. Hawa dingin masih terasa menyergap diri, walau sinar mentari sudah menyeruak di sela hutan belantara Desa Sukawangi – Puncak Dua Bogor. Dibawah sergapan hawa pegunungan itu, suka-cita pun mewarnai asa.

Saatnya panen jahe tiba, yang diawali dengan makan bersama serta doa dan puji syukur pada yang Maha Kuasa. Suasana itu bak mengingatkan pada cerita lama, tentang bersahajanya sebuah bangsa agraris; ‘Indonesia yang sesungguhnya’.

Terdengar canda-kelakar ibu-ibu dan wanita muda, jelang gotong-royong di lahan mereka. Harga jahe pun lagi bagus-bagusnya. Kondisi ini begitu kontras, atau boleh dikatakan berbanding terbalik dengan berbagai jenis komoditas hortikultura (sayuran) lain yang diusahakan warga di kawasan Puncak Dua.  Seperti diketahui, beberapa waktu belakangan, harga sayuran bagaikan ‘terjun bebas’. Dikabarkan  bahwa daya beli konsumen merosot sejak Covid-19 mendera.

Namun tidak begitu halnya dengan jahe. Harga komoditas pedas ini melambung tinggi. Semerbaknya pun menggairahkan petani Kampung Arca, meski ditengah bayangan akan tergusurnya kebun mereka (masyarakat awam –red) akibat isu yang berhembus akhir-akhir ini (baca green.indonesia.co; PKS Pehutani, Sosialisasi Setengah Berbisik …)

Produktifitas Tinggi

Tingginya harga jahe sejak beberapa waktu belakangan, menjadi pelipur lara bagi petani Puncak Dua. Pasalnya, hampir semua jenis sayuran yang dipanen dimasa pendemi corona saat ini  membuat petani bagaikan putus asa.

Yang menggembirakan lagi, tampaknya tanaman jahe sangat cocok di kawasan ini. Terbukti, dengan perawatan (budidaya) sederhana, komoditas rempah tersebut mampu berpoduksi tinggi dan panen dengan kualitas terbaik. “Jahe Arca jauh lebih baik dibanding jahe yang ditanam di daerah lain,” ungkap seorang bandar (buyer) kepada GI beberapa waktu lalu.

Produksi tinggi. Suka ria panen memuaskan

Desa Sukawangi memang subur. Hal itu diakui oleh Dedi Durohman, petani di Kampung Arca yang menyatakan surprise dengan hasil panen jahenya pada hari itu. “Dengan bibit sekitar 60 kilogram ternyata bisa panen 1,5 ton. Padahal perawatannya sangat minim,”  tutur Dedi yang mengaku baru pertama kali menanam jahe di lahannya.

Hal senada juga disampaikan oleh petani lainnya, yakni Nden Supendi, yang sudah duluan panen dan menikmati hasilnya beberapa hari lalu. “Ini panen kedua, dan saya bisa menekan biaya produksi (modal) karena tidak lagi membeli bibit. Bibitnya sudah disisihkan dari hasil panen tahun lalu,” jelas petani yang biasa dipanggil Deni itu.

Akhir-akhir ini harga jahe di tingkat petani (Puncak Dua) cukup menggiurkan, yakni bertengger diatas Rp 20.000,- per kilogram. Para petani pun berharap harga tersebut bisa stabil hingga masa panen tahun depan.

Prospek Cerah

Desa Sukawangi (Kecamatan Sukamakmur) dan Kawasan Puncak Dua pada umumnya, memang subur. Nyaris semua warga (95%) di kawasan ini adalah petani. Dan yang membanggakan lagi, selama ini para petani bergerak secara mandiri.

Seperti cerita beberapa petani, mereka minim dukungan, baik dari segi permodalan hingga bimbingan teknis. Bahkan kelembagaan petani (Gapoktan), terutama di Desa Sukawangi pun terkesan ‘mandul’.

Meski demikian, kawasan berhawa sejuk nan subur di Timur Bogor itu, selama bertahun-tahun tetap eksis sebagai ‘desa pangan’ (terutama hortikultura) di pinggiran ibukota republik ini. Sejumlah warga pun bermimpi, jika kelak, kawasan indah yang dimiliki Kabupaten Bogor tersebut kian berkembang menjadi daerah wisata, maka tetaplah asri. Dimana budaya negeri agraris tetap terjaga dan lestari.

Lantas, wanawisata (hutan) pun bersanding damai dengan agrowisata (agribisnis hortikultura).

Semoga…

***Riz***